- Back to Home »
- 2016-04 April 2016 »
- Memahami Dukkha (bagian 2)
Selamat sore, Namo Buddhaya Memahami Dukkha (bagian 2) Ven Ajahn Chah Apakah sangkar ini? Itu adalah sangkar kelahiran, sangkar penuaan, sangkar penyakit, sangkar kematian. Dengan cara ini, kita terpenjara dalam dunia. “Ini milik ku.” “Itu punya ku.” Kita tidak tahukalau kita ini sesungguhnya apa, atau apa yang kita lakukan. Sesungguhnya semua yang kita lakukan hanyalah menumpuk duka bagi kita sendiri. Bukan sesuatu yang jauh yang menyebabkan duka kita, namun karena kita tidak melihat pada kita sendiri. Betapa pun banyaknya kebahagiaan dan kenyamanan yang mungkin kita miliki saat ini, karena terlahir kita tidak bisa mengelak dari penuaan, kita harus jatuh sakit, dan kita harus mati. Inilah dukkha itu sendiri, disini saat kini. Selalu saja sewaktu-waktu kita bisa terkena rasa sakit atau penyakit. Ini bisa terjadi kapan saja. Ini bagaikan kita telah mencuri sesuatu: kita bisa ditahan kapan saja karena kita telah melakukan pencurian itu. Itulah situasi kita. Kita hidup diantara segala sesuatu yang membahayakan, diantara bahaya dan kesukaran; penuaan, penyakit, dan kematian menjajah hidup kita. Kita tidak bisa melarikan diri atau bersembunyi dari mereka. Mereka bisa dating dan menangkap kita kapan saja—selalu merupakan saja ada kesempatan baik bagi mereka. Jadi kita harus memasrahkan hal ini kapada mereka dan menerima situasi ini. Kita harus mengaku salah. Jika kita tidak mengaku salah, kita akan amat menderita . Jika kita mengaku salah, mereka tidak akan terlalu keras kepada kita—kita tidak akan tersiksa terlalu lama. Ketika badan terlahir, badan tidak menjadi milik siapa pun. Badan itu seperti aula meditasi kita. Setelah selesai dibangun, laba-laba akan dating untuk bersarang disini. Kadal akan dating untuk tinggal didalamnya. Ular mungkin dating dan tinggal didalamnya. Segala jenis serangga dan binatang melata akan tinggal didalamnya. Apa pun bisa dating dan tinggal didalamnya. Ini bukan hanya aula kita; ini adalah aula semua hal. Tubuh kita ini pun demikian. Tubuh bukanlah milik kita. Kita datang untuk tinggal didalamnya dan bergantung padanya. Penyakit, rasa sakit, dan penuaan dating untuk berdiam dalam tubuh, dan kita hamya tinggal bersama dengan mereka. Ketika tubuh ini mencapai akhir duka dan penyakit datang menjelang, akhirnya terurai dan mati, itu bukan kita yang mati. Jadi jangan berpegang pada satu pun dari tubuh ini, namun renungi dengan jernih, dan cengkeraman Anda akan berangsur-angsur akan memudar. Apakah Anda tahu jika nafsu itu memiliki batas? Di titik mana nafsu akan terpuaskan? Apakah ada hal demikian? Jika Anda menimbangnya, Anda akan melihat tanha, nafsu buta yang tidak dapat dipuaskan. Tanha terus ingin lebih dan lebih lagi; bahkan jika tanha membawa derita sampai kita hampir mati, tanha akan terus menginginkan segala sesuatu, karena kepuasan adalah mustahil bagi tanha. Buddha mengajarkan “Petunjuk bagi yang kaya”. Ini berarti berpuas diri dengan apa yang kita punyai. Itulah orang yang kaya. Inilah petunjuk bagi yang kaya. Saya piker pengetahuan semacam ini benar-benar layak dipelajari. Pengetahuan yang diajarkan dalam jalan Buddha adalah sesuatu yang berharga untuk dipelajari; berharga untuk direnungi. Pertama, pengetahuan ini mengajarkan jalan hidup etis. Selama kita punya kecukupan materi untuk menyokong hidup kita, kita bisa menutup jalan menuju alam-alam lebih rendah dengan hidup secara moral. Kemudian, praktik Dhamma murni melampaui hidup moral. Ini jauh lebih dalam. Sebagian dari kita mungkin tidak mapu memahaminya. Cukup ambil kata-kata Buddha bahwa tidak ada kelahiran lagi bagi-Nya, bahkan kelahiran dan keberadaan telah diselesaikan. Mendengar ini membuat kita tidak nyaman. Untuk menyatakannya secara langsung, Buddha mengatakan bahwa kita sebaiknya tidak terlahir, karena itu adalah duka . Hanya satu hal ini, kelahiran, yang Buddha pusatkan , amati, dan sadari bobotnya. Dengan terlahir, segala dukkha dating bersama dengan itu. Dukkha terjadi secara bersamaan dengan kelahiran. Ketika kita dating kedunia ini, kita mendapatkan mata, mulut hidung-semuanya dating bersama, hanya karena kelahiran . Namun jika kita mendengar mengenai kematian dan tidak lahir lagi, kita merasa itu adalah keruntuhan habis. Kita tidak mau pergi kesana. Namun ajaran Buddha yang paling dalam adalah seperti ini. Mengapa kita menderita sekarang? Karena kita terlahir. Jadi kita diajarkan untuk mengakhiri kelahiran. Ini bukan hanya bicara mengenai tubuh lahir dan tubuh mati. Kalau itu sih mudah dilihat-anak kecil saja tahu. Napas berakhir, tubuh mati, lalu hanya tergolek disana. Inilah yang biasanya kita maksud ketika kita bicara tentang kematian . Tapi orang mati yang bisa bernapas-itu sesuatu yang kita tidak pernah tahu. Orang mati yang bisa berjalan dan bicara juga senyum adalah sesuatu yang belum pernah kita tahu. Kita Cuma tahu mayat yang tidak bernapas lagi, itulah yang kita sebut kematian. Sama pula dengan kelahiran. Ketika kita berkata bahwa seseorang telah lahir, maksud kita adalah seorang perempuan pergi kerumah sakit dan melahirkan. Tapi saat batin terlahir-sudahkah Anda memerhatikan itu? Seperti ketika Anda menjadi kesal terhadap sesuatu di rumah? Kadang cinta lahir, kadang benci lahir. Jadi senang, jadi tidak senang—segala macam keadaan. Inilah kelahiran. Kita menderita hanya karena ini. Ketika mata melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, dukkha terlahir. Telinga mendengarkan sesuatu yang benar-benar Anda sukai, dukkha terlahir juga. Yang ada hanya penderitaan. Buddha merangkumnya dengan mengatakan bahwa hanya ada segumpal dukkha. Dukkha lahir dan dukkha berakhir. Semuanya hanya itu. Kita menyergap dan merengkuhnya lagi dan lagi, menyergap saat lenyap, tidak pernah benar-benar memahaminya. Ketika dukkha muncul, kita menyebutnya penderitaan. Ketika dukkha berakhir, kita menyebutnya kebahagiaan. Ini semua barang lama, muncul dan lenyap. Kita diajarkan untuk mengamati badan dan batin yang muncul dan lenyap. Tidak ada yang lain di luar ini. Kita mengenali penderitaan sebagai penderitaan ketika penderitaan muncul. Kemudian ketika penderitaan berakhir, kita menganggapnya itu sebagai kebahagiaan. Kita melihatnya dan memaknainya sedemikian, tapi sebenarnya bukan begitu. Itu hanyalah dukkha yang berakhir. Dukkha muncul dan lenyap, muncul dan lenyap, dan kita menyergapnya, mencengkeramnya erat-erat. Kebahagiaan muncul dan kita senang. Ketidak bahagiaan muncul kita resah dan galau. Ini sesungguhnya sama saja, semata- mata muncul dan lenyap. Ketika ada pemunculan , ada sesuatu, dan ketika ada kelenyapan, itu pergi. Disinilah kita jadi bingung. Maka, diajarkan bahwa dukkha muncul dan lenyap, dan diluar itu, tidak ada apapun. Kita tidak mengetahui dengan jelas bahwa hanya ada duka, karena ketika duka berhenti, kita melihat kebahagiaan disana. Kita mencengkeramnya dan tersangkut disana. Kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi, padahal hanya muncul dan lenyap. Buddha merangkum dengan mengatakan bahwa hanya ada pemunculan dan pelenyapan, dan tidak hal lain diluar itu. Ini sulit untuk didengarkan. Namun orang yang benar-benar memiliki rasa terhadap Dhamma, tidak perlu bergantung kepada apa pun, dan berdiam dengan nyaman. Kebenarannya adalah bahwa di dunia kita ini, tidak ada sesuatu pun yang melakukan apa pun terhadap siapa pun. Tidak ada sesuatu pun yang perlu di cemasi. Tidak ada sesuatu pun yang layak ditangisi, tidak ada yang ditertawakan. Tidak ada yang hakikatnya tragis atau asyik. Tapi begitulah yang dianggap wajar bagi orang. Pembicaraan kita mungkin biasa-biasa saja, menceritakan kepada orang lain sesuai cara pandang yang biasa. Tak mengapa. Tapi jika kita berpikir dalam cara yang biasa-biasa, itu membawa pada air mata. Jika kita benar-benar mengetahui Dhamma dan melihatnya terus menerus, tidak ada apa pun yang sejati sama sekali; hanya ada kemunculan dan keberlaluan. Tidak ada suka atau duka sejati. Maka hati akan damai, kala tiada suka atau duka. Kala ada suka dan duka, ada kemunculan dan kelahiran, yang berarti perubahan tanpa akhir. Kita biasanya mencoba menghentikan penderitaan demi memunculkan kebahagiaan. Itulah yang kita inginkan. Namun apa yang kita inginkan bukanlah kedamaian yang sejati; itu adalah suka dan duka yang timbul dan kemudian lenyap. Tujuan ajaran Buddha adalah untuk praktik menciptakan sejenis karma yang berada diluar suka dan duka, dan yangt akan membawa kedamaian sejati. Namun biasanya, kita bisanya hanya berpikir bahwa memiliki kebahagiaan akan membawa kedamaian bagi kita. Jika kita menemukan sejumput kebahagiaan, kita berpikir itu sudah lumayan. Makanya kita manusia mengharapkan segala sesuatu yang berlimpah. Jika kita dapat banyak, itu berarti baik—pada umumnya, begitulah cara berpikir kita. Berbuat baik seharusnya membawa hasil yang baik, dan jika kita mendapatkannya, kita bahagia. Kita piker bahwa itulah semua yang perlu kita lakukan, dan kita terhenti disana. Namun bisakah pengalaman yang berbahagia memberikan kita kepuasan yang langgeng dan terus menerus? Kepuasan itu tidak menetap. Kita terus saja maju dan mundur, mengalami yang baik dan yang buruk, berusaha siang dan malam untuk merengkuh apa yang kita rasa baik. Ajaran Buddha adalah pertama-tam kita seharusnya tidak melakukan kejahatan, kemudian kita melaksanakan apa yang baik. Kedua, Buddha mengatakan bahwa kita seharusnya meninggalkan kejahatan sekaligus kebaikan, tidak memiliki kelekatan terhadap semua kondisi itu, karena mereka juga adalah sejenis bahan bakar. Ketika ada yang merupakan bahan bakar, pada akhirnya ia akan menyala. Baik adalah bahan bakar. Buruk adalah bahan bakar.