Posted by : Unknown Monday, April 4, 2016

Namo Buddhaya, selamat siang Memahami Dukkha (bagian 1 ) Lungpoh Chah Dukkha menempel di kulit dan menembus hingga ked aging; dari daging , ia masuk kedalam tulang. Dukkha seperti serangga di pohon yang memakan tembus kulit pohon hingga ke kayu dank e intinya, hingga akhirnya pohon itu mati. Seiring kita bertumbuh besar, dukkha terkubur mendalam di batin, Orang tua kita mengajarkan kita untuk mencengkeran dan melekat, memberikan makna terhadap segala sesuatu, mempercayai dengan teguh bahwa kita eksis sebagai sosok-diri, dan segala sesuatu adalah milik kita. Sejak kita lahir, itulah yang diajarkan kepada kita. Kita mendengar ini lagi dan ini lagi, dan hal ini menembus didalam hati kita, dan akhirnya berdiam disana sebagai kebiasaan perasaan kita. Kita diajarkan untuk mendapatkan segala sesuatu, menghimpun, dan berpegang pada segala sesuatu, untuk melihat segala sesuatu sebagai penting dan milik kita. Inilah yang memang diketahui orang tua kita ketahui, dan inilah yang mereka ajarkan kepada kita. Jadi ajaran ini masuk ke dalam batin kita, kedalam tulang-tulang kita. Ketika kita berminat akan meditasi dan mendengarkan ajaran dari pembimbing spiritual, hal ini tidaklah mudah untuk dipahami. Ini tidak benar-benar menyentuh kita. Kita diajari untuk tidak melihat dan tidak melakukan segala sesuatu dengan cara lama, namun ketika kita mendengarnya, ajaran ini tidka menembus hati kita. Jadi kita duduk dan mendengarkan ajaran, namun seringkali itu hanya suara yang masuk ketelinga. Ini seperti kita sedang bertinju dan kita terus menerus memukuli lawan, namun dia tak kunjung jatuh. Kita tetap terpaku dalam pandangan-diri kita. Orang bijak pernah berkata bahwa lebih mudah memindahkan gunung dari satu tempat ketempat lain dari pada memindahkan keangkuhan pandangan-diri, perasaan solid ini bahwa kita benar-benar eksis sebagai sosok pribadi yang special. Kita bias menggunakan bahan peledak untuk meratakan gunung dan kemudian memindahakan tanahnya. Namun cengkeram ketat keangkuhan-diri- ya ampun !!! Gagasan keliru dan kecenderungan buruk kita tetap begitu keras dan bergemning, dan kita tidak sadar akan hal ini. Jadi orang bijak telah mengatakan bahwa menyingkirkan pandangan ini dan mengubah pemahaman yang salah menjadi pemahaman benar adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan. Bagi para mahluk duniawi (putthujana), untuk berkembang menjadi mahluk luhur (kalyanajana) tidaklah mudah. Putthujana adalah mahluk yang terselubung kabut tebal, yang gelap, yang tersangkut sangat dalam di kegelapan dan selubung ini. Kalyanajana telah membuat segala sesuatu menjadi lebih terang. Kita mengajar orang utk tercerahkan, namun mereka tidak mau melakukannya, karena mereka tidak memahami situasi mereka, kondisi keterselubungan mereka. Jadi mereka terus terseret kedalam kebingungan mereka. Jika kita bertemu dengan seonggok kotoran kerbau, kita tidak akan berpikir bahwa kotoran itu milik kita dan kita tidak ingin memungut dan menyimpannya. Kita hanya akan meninggalkannya ditempatnya berada, karena kita tahu itu kotoran kerbau. Begitulah apa yang baik dalam jalan yang tidak murni. Seperti halnya kejahatan adalah makanan bagi orang jahat. Jika Anda mengajar mereka tentang melakukan kebajikan, mereka tidak tertarik, tapi lebih suka tetap menjadi seperti mereka adanya karena mereka tidak melihat bahaya didalamnya. Tanpa melihat bahayanya, tidaklah mungkin membenahi diri . Jika Anda mengenalinya, maka Anda akan berpikir, “Oh! Seluruh onggokan kotoranku tidak bernilai sedikit pun!” dan alih-alih Anda akan menginginkan emas; Anda tidak menginginkan kotoran lagi. Jika Anda tidak menyadari ini, Anda tetap akan menjadi pemilik seonggok kotoran. Itulah hal “baik” dari yang tidak murni. Emas, permata, dan berlian dianggap sebagai sesuatu yang baik di alam manusia. Yang busuk dan bau dianggap baik oleh lalat dan serangga lainnya. Jika anda mengumpulkan bunga-bunga segar, lalat tidak akan tertarik. Bahkan jika Anda mencoba membayar mereka, mereka tidak akan dating. Namun dimanapun ada bangkai, dimanapun ada sesuatu yang berbau busuk, kesanalah mereka akan pergi. Pandangan salah adalah seperti itu. Pandnagan salah bergembira dalam hal semacam itu. Apa yang berbau harum bagi lebah tidaklah harum bagi lalat. Dahulu ada dua sahabat karib. Setelah mereka meninggal, yang satu terlahir ulang dianatara para dewa dengan kenikmatan indrawi, sementara yang satunya lahir sebagai belatung disebuah lubang kotoran. Sang dewa terbekali dengan beragam kekuatan, dan mengingat sahat lamanya dari kehidupan sebelumnya, ia mengerahkan kewaskitaanya untuk menemukan sang sahabat. Ia lalu memindahkan dirinya ke lubang kotoran itu dan mampu membuat sahabatnya meneganalinya. Mereka bersuka cita bisa bertemu kembali. Belatung itu bertanya kepada sang dewa, “Jadfi bagaimana rasanya di tempat kamu terlahirkan kembali?” Sang dewa berkata, “Tempat itu luar biasa! Tiada hal lain selain kenikmatan! Semuanya bersih dan menyenangkan. Apa pun yang kamu inginkan, akan muncul seketika. Kuharap kamu bias pergi bersama dengan ku.” Namun belatung itu mulai menangis, karena ia kasihan terhadap sahabatnya. “Dengar,” katanya, “Hidup begitu asyiknya disini. Aku dapat bermain sepanjang hari dilubang ini. Aku bahkan tidak harus membuat permohonan agar apa yang kuinginkan muncul, karena semuanya sudah ada disini. Kamu benar-benar yang harus tinggal disini.” Ada kesukaran dalam praktik, namun dalam apa pun yang kita jalani, kita harus melewati kesukaran itu untuk mencapai kenyamanan. Dalam praktik Dhamma, kita mulai dengan kebenaran Dukkha, sifat tidak memuaskan keberadaan yang ada dimana-mana. Namun begitu kita mengalami ini kita patah semangat. Kita tidak ingin melihatnya. Dukkha sungguh merupakan kebenaran, namun entah bagaimana kita ingin menginkarinya. Ini sama halnya sengan bagaimana kita tidak suka melihat orang yang tua, namun lebih suka melihat orang yang muda dan menarik. Jika kita tidak ingin melihat dukkha, kita tidak akan pernah memahami dukkha, tak peduli berapa lama pun kita hidup.Dukkha adalah kebenaran. Jika kita mengizinkan kita menghadapinya, maka kita akan mulai mencari jalan keluar dari dukkha itu. Jika kita berupaya pergi ke suatu tempat dan jalannya terhalang, kita akan memikirkan bagaimana caranya membuat sebuah jalan yang lain. Setelah bekerja hari demi hari, kita akan bisa melewatinya. Ketika kita menemui masalah, kita mengembangkan kebijaksanaan seperti ini. Tanpa melihat dukkha, kita tidak benar-benar melihat kedalam dan memecahkan masalah kita; kita hanya menoleransi mereka atau dengan cuek melewati mereka. Cara saya melatih orang-orang melibatkan berbagai penderitaan, karena memahami penderitaan adalah jalan Buddha menuju pencerahan. Buddha menginginkan kita untuk melihat dukkha, dan melihat penyebabnya, lenyabnya, dan jalan yang memunculkan lenyapnya. Inilah jalan keluar bagi semua mahluk yang sadar. Jika Anda tidak pergi dengan jalan ini, tidak ada jalan keluar lainnya. Jika kita mengetahui dukkha, kita akan melihatnya dalam semua hal yang kita alami. Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak benar-benar banyak menderita. Namun praktik dalam Buddhisme adalah demi tujuan membebaskan kita dari duka, ketidak puasan yang melingkupi pengalaman sehari-hari. Apa yang sebaiknya kita lakukan agar tidak menderita lagi? Ketika dukkha muncul, kita harus menyelidiki untuk melihat sebab kemunculannya. Mengetahui hal ini, kita bias melatih untuk meyingkirkan sebabnya. Kemudian begitu kita memapaki jalan menuju kecukupan hati, dukkha tidak akan lagi muncul. Dalam Buddhisme, inilah jalan keluarnya. Melawan kebiasaan kita akan meciptakan berbagai derita. Namun pada umumnya, kita takut menderita, kita tidak ingin melakukannya. Kita terlalu tertarik dengan apa yang tampaknya bagus dan indah, dan kita merasa bahwa apa pun yang melibatkan derita adalah buruk. Tetapi ini bukan seperti itu. Jika ada duka dalam hati, duka itu akan menjadi sebab yang membuat Anda berpikir untuk malrikan diri. Duka membawa Anda untuk merenung, Anda akan berniat menyelidiki untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, mencoba melihat sebab dan akibatnya. Orang bahagia tidak mengembangkan kebijaksanaan. Mereka tertidur. Ini seperti anjing yang telah makan sampai kenyang. Setelah kenyang dia tidak ingin melakukan apa pun. Dia bias tertidur sepanjang hari. Dia tidak akan menggonggong jika maling dating-dia terlalu kenyang dan lelah. Tapi jika Anda hanya member anjing itu sedikit makanan, dia akan siaga dan bangun. Jika seseorang datang mengendap, dia akan melompat dan mulai menggonggong. Pernahkah Anda melihat itu? Kita manusia terperangkap dan terpenjara dalam dunia ini dan memiliki berlimpah ruah masalah. Kita selalu penuh keraguan, kebingungan dan kecemasan. Ini bukan permainan. Jadi ada sesuatu yang perlu kita enyahkan. Menurut jalan pengembangan spiritual, kita seharusnya meninggalkan tubuh kita, menyerahkan batin kita. Kita harus bertekad untuk memberikan hidup kita demi pengejaran kebebasan sejati. Jika kita membicarakan Dhamma yang mendalam, kebanyakan orang akan ketakutan. Mereka tidak akan berani memasukinya. Bahkan hanya mengatakan: “Jangan melakukan kejahatan saja,” kebanyakan orang tidak mampu mengikuti ini. Jadi saya telah mencari segala macam cara untuk membuat ajaran ini bias masuk, dan satu hal yang sering saya katakana adalah, entah jika kita sedang gembira atau sedih, bahagia atau menderita, meneteskan air mata atau menyanyikan sebuah lagu,tidak menjadi soal-hidup di dunia ini, kita hidup dalam sebuah sangkar. Bahkan jika Anda kaya, Anda juga hidup dalam sebuah sangkar. Jika Anda bernyanyi dan menari, Anda bernyanyi dan menari dalam sebuah sangkar. Jika Anda menonton film, Anda menontonya dalam sebuah sangkar. Apakah sangkar ini? Akan dilanjutkan bagian 2

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blog Archive

Powered by Blogger.

- Copyright © Dhamma Cittapali -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -