- Back to Home »
- 2016-04 April 2016 »
- Kisah Bakti Anak Pada Orangtua
Namo Buddhaya
Kisah ke 5 Bakti Anak Pada Orangtua
Yang Asam Untuk ...
Yang Manis Untuk ...
Di akhir masa dinasti Si Han, ada pemberontak bengis yang ingin merebut dan menjadikan dirinya sebagai raja bernama Huang Mang. Demi ambisinya dia menyingkirkan dan membunuh orang-orang yang merintangi dan tidak setuju dengan dia, sehingga negara menjadi tidak tenteram. Dimana-mana terjadi kekacauan dan perampok ganas bermunculan dan merajalela yang membuat rakyat takut dan menderita.
Kesengsaraan rakyat semakin bertambah dengan terjadi kekeringan yang berakibat gagal panen, sehingga kekurangan bahan pangan.
Salah satu perampok ganas adalah "Si alis merah" yang terkenal garang dan mencat alis mereka dengan warna merah. Gerombolan ini berkeliaran dimana-mana untuk menjarah dan merampok bahan makanan dan barang berharga lainnya.
Waktu itu, di daerah He Nan, tinggal seorang anak bernama Chai Sun bersama ibunya, karena ayahnya telah meninggal dunia sejak dia berumur 3 tahun.
Mereka berdua hidup menderita, dan sang ibu bersusah payah dan bekerja keras untuk kehidupan mereka. Perasaan sedih ditinggal suaminya juga membuat badannya menjadi lemah dan untunglah Chai Sun juga sudah tumbuh agak besar dan melihat penderitaan ibunya, dia menjadi seorang anak yang sangat berbakti. Mulailah Chai Sun yang beranjak besar memikul tanggung jawab menghidupi ibu dan dirinya sendiri.
Setiap pagi, Chai Sun sudah mendaki gunung mencari kayu bakar untuk selanjutnya di jual ke pasar. Dengan sedikit uang hasil penjualan, ia membeli bahan makanan, dan sampai di rumah siang hari untuk memasak nasi dan sayuran untuk ibunya.
Musim paceklik dan kekeringan yang berkepanjangan membuat padi dan segala tumbuhan di sawah-ladang sulit tumbuh, ditambah kekacauan yang dibuat para perampok dan pengacau membuat rakyat kesulitan memperoleh makanan sehari-hari.
Kadang-kadang ibunya sambil menunggunya dan berharap Chai Sun pulang membawa makanan tetapi tidak membawa apa-apa. Mengetahui hal ini, ibunya menyisakan sedikit sayuran untuk sang anak, "Chai Sun, kamu sudah seharian kerja dan letih, ayo makanlah!. Di atas meja ada semangkuk kecil sayur, mumpung panas cepat dimakan".
Chai Sun tahu bahwa ibunya belum makan dan sengaja memberikan kepadanya, maka Chain Sun berpura-pura mengatakan belum lapar dan mempersilahkan ibunya yang makan. Demikianlah ibu dan anak saling mengalah dan akhirnya diputuskan untuk membagi dua sayur tersebut. Sayur tersebut merupakan tumbuhan liar, tapi sudah hampir habis di cabut oleh penduduk yang kelaparan.
Chai Sun melihat ibunya, semakin lama semakin kurus karena kekurangan makanan. Maka pada satu hari, dia berkata kepada ibunya," Bu, saya dengar di pinggiran daerah yang masuk kedalam hutan, ada pohon "sang" (sejenis buah mulberry) yang buahnya bisa dimakan. Saya mau pergi mencari dan memetiknya. Makan buah ini bisa menghilangkan lapar dan memberi tenaga, sehingga ibu tidak menderita lapar lagi."
Dengan membawa dua buah keranjang, Chai Sun pun berangkat , berjalan jauh di bawah teriknya matahari, keringat pun bercucuran, merasa letih dan haus barulah sampai di tengah hutan, tapi Chai Sun tetap semangat mencari dan akhirnya menemukan pohon "sang".
Sambil memanjat dan memetik buahnya, dia harus berjuang melawan nyamuk hutan yang dengan ganasnya menggigit tubuhnya. Tapi dalam benak Chai Sun teringat ibunya yang menunggu dan mengharapkan buah yang dipetiknya, maka dengan susah payah pun dia tetap tabah memetik buah-buah itu.
Ada dua jenis warna buah "sang" yaitu yang berwarna ungu gelap dan merah terang. Setelah mencicipinya diketahui bahwa yang berwarna ungu gelap terasa enak dan manis, dan yang merah terang agak asam dan kurang enak rasanya. Chai Sun pun memetik dan memisahkan keduanya sesuai warna pada masing-masing keranjang. Dengan perasaan gembira Chai Sun pulang ke rumah, sehingga ibu dan anak bisa kenyang makan berdua.
Demikianlah berkali-kali Chai Sun pergi ke tengah hutan untuk memetik buah "sang" dan selalu memisahkan buah itu dalam 2 keranjang yang terpisah sesuai warnanya.
Hingga suatu hari saat sedang memetik buah, mendadak terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat. Belum sempat melihat jelas apa yang menuju dia, terdengar suara garang , "Hai setan kecil, cepat turun dan kesini". Chai Sun berpaling dan jantungnya berdetak kencang. Celaka tidak disangka, didekatnya sudah berdiri dua orang bertubuh besar dan ber-alis merah. Chai Sun merasa lemas badannya. Bagaimana tidak mereka adalah perampok alis merah yang terkenal ganas.
Dua orang perampok beringas itu dengan suara lantang berkata, "Bawa kesini dua keranjang itu, kami mau melihat apa isinya!".
Sambil melirik ketakutan, Chai Sun menyerahkan kedua keranjang yang berisi buah kepada kedua perampok itu.
"Dasar, dikiranya barang berharga, tidak tahunya hanya berisi buah-buahan saja."
Dengan mata melotot, perampok itu kembali bertanya pada Chai Sun, " Hei, untuk apa kamu memetik buah ini?"
"Ampun tuan, saya memetik buah ini untuk makan berdua dengan ibu, karena dirumah tidak ada makanan lain ", Chai Sun menjawab dengan suara gemetar.
"Oh begitu!", kata salah satu si alis merah. Sambil menatap pada keranjang buah itu, dia bertanya lagi, "Mengapa buah-buah ini, di bagi dalam dua keranjang?"
Chai Sun mulai agak tenang dan dengan jujur menjawab," Karena buah "sang" ini ada yang manis dan matang dan juga ada yang asam dan agak mentah. Mengingat ibu saya sudah tua dan lemah badannya maka saya sengaja memisahkan buah berwarna ungu gelap yang manis dan matang untuk di makan ibu, dan saya sendiri memakan yang asam dan mentah yang berwarna merah terang"
Kedua perampok alis merah saling melirik dan berguman , "Baiklah, beruntunglah karena kamu masih kecil namun sudah tahu berbakti, maka kami tidak membunuh kamu. Cepat cepat pergi!", suara perampok itu yang tadinya bengis sudah berubah jadi perlahan.
Mendengar perkataan itu, Chai Sun langsung membawa kedua keranjangnya dan langsung mau mengambil langkah seribu.
Belum sempat kakinya beranjak, mendadak terdengar suara si alis merah, " Hei, tunggu dulu !.
Chai Sun tertegun mendengar perkataan itu dan berpikir , jangan-jangan perampok itu berubah pikiran dan mungkin akan membunuh atau menyiksanya.
Belum sempat berpikir lebih jauh, si perampok berkata, "Ini untuk kamu" , sambil memberikan satu bundelan yang terlihat agak berat dan kedua perampok itu berlalu meninggalkan Chai Sun.
Setelah merasa perampok telah pergi jauh, barulah Chai Sun membuka buntelan itu, "Wah ternyata beras yang lumayan banyaknya" seru Chai Sun gembira. Ia pun segera pulang ke rumah. Sambil menceritakan pengalamannya pada sang ibu, dia pun menanak nasi pemberian si alis merah untuk ibu dan dirinya sendiri yang sudah lama tidak memakannya.
Karena baktinya, bukan saja Chai Sun tidak dibunuh atau disiksa perampok, malahan diberi beras yang sangat langka pada saat itu
Bakti
Pokok Kebajikan Dunia
Kata Pendahuluan oleh Lie Chi Hua
Yayasan Maha Dharma
Telah disunting