Posted by : Unknown Saturday, April 9, 2016

Namo Buddhaya

"Panggilan Hidup Biarawan"
K. Wijaya Mukti

Semua orang tahu besarnya nilai rambut bagi seorang wanita. Rambut itu mesti dicukur habis untuk menjadi rahib Buddha. Salah satunya, Anila Jampa, seorang wanita Inggris yang bermata biru, dicukur gundul untuk mengenakan jubah Tibet yang berwarna merah tua.

Hampir sepuluh tahun yang lalu, ia pernah menjadi perhatian beberapa surat kabar luar negeri. Perempuan muda itu produk generasi rock dengan busana yang serba ' wah'. Tetapi gundul dan jubah bukan soal mode. Ini adalah cara hidup.
Bagi Anila Jampa berarti meninggalkan klub-klub malam, narkotika, dan gaya hidup absurd yang pernah membuainya.
Dituntun oleh seorang Lama, ia menjadi biarawati dan tinggal di sebuah goa 3000 kaki di atas danau Sopema di India.

Menjadi rahib berarti meninggalkan kehidupan seks. Maka tidak sedikit orang yang memperkirakan cara hidup ini sesuai untuk mereka yang sedih ditinggalkan kekasih.

Atau menurut Raja Kuru kemalangan saja yang membuat orang mau mencukur rambut dan janggut untuk mengenakan jubah rahib .
Ada empat macam kemalangan dalam pandangannya . Selain malang karena hidup sendiri kehilangan orang-orang yang dikasihi, ada yang malang karena merasa sudah tua, malang karena sakit-sakitan dan malang karena jatuh miskin (Majjima Nikaya 82).

Anila Jampa benar malang. Semua orang bisa malang. Namun tidak banyak yang memilih mencukur rambut dan mengenakan jubah kuning, atau jingga, merah dan warna lainnya.
Kemalangan bukanlah pertanda panggilan untuk hidup membiara. Hanya orang yang menyadari kemalangan itu dan mengubah perasaan emosinya menjadi kebijaksanaan yang terpanggil untuk membiara. "Kalau aku memikirkan kesedihan penduduk dunia, kedukaan mereka menjadi milikku," demikian ujar Anila Jampa. Keterlibatan yang mendalam dengan penderitaan manusia lain, atau merasa bersatu dengan derita semesta tidak ditemukan pada orang yang meratapi nasib sendiri.

Segala bentuk konsepsi "keakuan" bukan lagi bagian dari hidup murid Buddha. Sedikitnya ada 227 ketentuan yang mengatur disiplin seorang bhikkhu, dan lebih banyak lagi untuk golongan perempuan. Mereka tidak memerlukan rumah kepunyaan sendiri, tidak memerlukan harta pribadi. Barang milik pribadi yang diperlukan cuma pakaian atau jubah dan sebuah mangkok  makan.
Tanpa adanya panggilan atau dorongan hati sendiri gaya hidup rahib ini mustahil  untuk dipatuhi.

Dalam memenuhi kebutuhan yang sama orang bisa berbeda keinginan. Aristippos ingin makan enak dan hidup mewah. Dia mencibir Diogenes yang bersahaja, katanya : "Kalau saja engkau mau belajar menghamba kepada raja, engkau tidak perlu lagi makan sampah seperti ubi."
Sebaliknya jawab Diogenes : "Kalau engkau sudah belajar hidup dengan makan ubi, tidaklah perlu menjilat raja".
Ketika seorang raja menawarkan hadiah kepadanya, Diogenes meminta agar sang raja bergeser sedikit hingga tidak menghalangi sinar matahari yang menuju tahangnya. Setelah itu ia berkata : "Cukuplah tuanku, aku tidak ingin apa-apa lagi."  Seperti  Diogenes biarawan tidak perlu belajar menjilat raja atau penguasa lain.

Raja yang justru menaruh hormat kepada para bhikkhu atau bhikkhuni. Sebagaimana misalnya yang dikemukakan oleh Raja Ajatsattu, ia menghormati setiap rahib, sekalipun asalnya hanya seorang budak. Dengan menjadi bhikkhu, seorang budak mendapatkan kebebasan dan terangkat derajatnya (Digha Nikaya 2).

Diantara mereka yang mendapat kemuliaan dengan menjalani kehidupan sebagai bhikkhu, terdapat Sunita yang asalnya tukang sampah dan Upali seorang tukang cukur. Tentu saja bukan hanya penampilan fisik yang mengubah nasib mereka. Seorang biarawan dihormati karena memiliki pikiran, ucapan dan perbuatan yang baik, terkendali tanpa keserakahan dan kebencian.

Mereka melihat orang-orang lain belum bebas dari kemelekatan nafsu indra, yang mengejar kepuasan indra, mengidamkan kepuasan indra dan terbakar oleh kegelisahannya. Sedangkan orang-orang suci menemukan kebahagiaan lain yang lebih luhur dari kepuasan indra. Tentu saja orang yang dapat  menikmati kebahagiaan yang lebih luhur itu tidak akan menyenangi kepuasan duniawi yang fana, tidak menginginkan kehidupan absurd apalagi menjadi iri hati pada  orang-orang yang mabuk keduniawian (Majjhima Nikaya 75).

Yasa, putra saudagar Benares yang kaya raya , yang dikelilingi wanita-wanita cantik, yang dihibur para penari dan penyanyi, menemukan kebahagiaan dengan meninggalkan segala kesenangan duniawi itu. Demikian pula Ratthapala, anak brahmana di Tullakotthita, tidak melihat timbunan uang dan emas permata dapat membahagiakannya. Mereka atau para pangeran seperti Ananda, Anuruddha dan lain-lainnya bukan manusia yang ditimpa nasib buruk atau putus asa dan meratapi kemalangannya. Mereka memiliki segala kelebihan duniawi yang diidam-idamkan orang lain.
Orang-orang dengan latar belakang  ini malah mengunjungi rumah-rumah umat dengan menadahkan mangkok batilnya untuk menerima pindapata, sedekah makanan, yang tidak jarang hanya berupa makanan sisa 

Para bhikkhu pun mengunjungi orang miskin. Tidak terkecuali, mereka meminta bahkan kepada orang miskin. Banyak orang berpikir bahwa para bhikkhu dapat menolong orang miskin dengan memberi atau mengalihkan harta kelebihan orang kaya kepada orang miskin. Namun sesuai dengan hukum karma, kaya atau miskin merupakan buah dari perbuatan orang yang bersangkutan. Maka orang miskin harus diberi kesempatan lebih banyak untuk menanam kebajikan, supaya nasibnya di kemudian hari dapat menjadi lebih baik.

Dalam suasana Kathina, bulan persembahan kebutuhan Sangha (himpunan bhikkhu), dana tidak hanya datang dari orang-orang yamg hidup berkecukupan.
Umat yang menyadari kekurangannya dan yakin pada hukum karma, berusaha menggunakan kesempatan ini untuk melakukan kebajikan sesuai dengan kemampuannya. Para bhikkhu telah merendahkan dirinya untuk menjadi pengemis yang paling miskin, yang menerima kebajikan dan sekaligus memberikan berkah.

2 November 1988

Di Atas Kekuasaan dan Kekayaan
Kumpulan Tulisan Mimbar Buddha Suara Karya
Penerbit Yayasan Dharma Pembangunan

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blog Archive

Powered by Blogger.

- Copyright © Dhamma Cittapali -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -