Archive for 2016
Shi Sang Chi You Mama Hau
Kisah Mama Yang Mulia [ Copas ]
Cintailah Mama kita sebagai mana kita mencitai diri kita sendiri.
"Shi Sang Chi You Mama Hau"
Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.
Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).
Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.
Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.
Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.
Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.
Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan2.
Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.
Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.
Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. "Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua", kata sang ibu.
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.
Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.
==========0000000000==============
Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya.
Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya...
Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.
Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.
Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa,untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.
Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..
Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.
Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang
sedang dilakukan oleh sang ibu ............ .
==========0000000000==============
Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau"
(terjemahannya "Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik").
Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.
Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.
Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat
membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.
Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah
pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak
terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak
keperluan lain yang perlu dibiayai.
Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena
ia akan membelinya bulan depan. "Apakah kamu punya uang?"
tanya sang pemilik toko. "Tidak sekarang, nanti saya akan punya", kata
sang anak dengan serius.
Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan
tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.
Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya "Dari mana kamu
mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?". "Saya tidak mencuri, kakek.
Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang
pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang
dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk
beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan
beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah" kata sang anak. Sang
pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.
Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak
segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.
"Apakah kamu mencuri, Nak?" Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.
Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. "Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri.
Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?" kata sang ibu.
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya.
Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. "Ia sebenarnya anak yang baik", kata salah satu tetangganya.
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya.
Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu.
Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.
"Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya". Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya.
Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.
Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu."Maafkan saya, Nak."
"Tidak Bu, saya yang bersalah".............. ..
===========000=================
Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi
istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.
Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.
Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu
ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
===========000==================
Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter
mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.
Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.
Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.
Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau", lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.
Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.
"Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak" kata
ibu. "Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu", kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung kerumah sang ayah keesokan hariya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.
Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. "Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu",
teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata "Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu." "Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi", sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 "Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu". Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan "Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini", ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.
Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu
menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi.
Ia telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.......... ..
============000=========
Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.
Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.
Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat
bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.
Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju
rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tsb, menangis "Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi."
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapitidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut.
Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari
ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya.
Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya dalam surat itu.
Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya.
Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.
Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.
Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan,
demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah.......... ..
============000==============
Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya.
Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak
telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi hasilnya nihil.
Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama
dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit.
Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah "Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?" Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu "Shi Sang Ci You Mama Hau" dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah.
Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memelukpengemis tua itu dan berteriak dengan haru "Ibu? Ini saya ibu".
Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu
bertanya, "Apakah kamu ??..(nama anak itu)?" "Benar bu, saya adalah anak ibu?".
Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi ............... .
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.
====================000===========================
_Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:_
Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya..
Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :
1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ...........
Tidak diragukan lagi "Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini"
Manfaat Baca Paritta
Namaste Sotthi hontu.
Pagi bahagia. Pagi penuh senyum ceria dgn rasa syukur dan betkah.
RENUNGAN: "manfaat baca paritta"
👉Jika Anda merasa tempat tinggal atau tempat kerja dan sejenisnya, suasana kurang nyaman; coba lakukan baca paritta secara rutin, maka tempat tersebut akan berubah menjadi nyaman.
👉Jika Anda kesulitan baca paritta, bahkan malah merasa tidak bisa baca; coba lakukan baca paritta secara rutin selama tiga bulan, paritta akan menjadi enak dan menyenangkan dibaca.
👉Jika Anda termasuk orang yang mudah gelisah dan susah tidur, coba baca paritta secara rutin; pikiran menjadi tenang, gelisah bisa diatasi, dan tidak kesulitan lagi kebutuhan tidur.
👉Jika Anda kesulitan mendapatkan buku paritta, bisa hubungi saya yang menganjurkan untuk baca paritta; buku paritta akan di beri, secara cuma cuma.
WA 081235761303
👉Sangat besar manfaatnya baca paritta secara rutin, jika dilakukan degan tulusnya keyakinan; paritta akan menjadi energi positif, dan energi positif itu yang memberi manfaat.
📝{B. Saddhaviro}
Berlakulah Hemat dan Seimbang
Namo Buddhaya
- Berlakulah Hemat dan Seimbang (2) -
"Makan dan minum seadanya,
Jangan memilih yang enak saja
Makanlah secukupnya
Jangan mubazir, walau sebutir nasi saja."
Penjelasan :
Dalam hal makanan jangan terlalu memilih-milih. Apa yang ada, manfaatkan dan konsumsi sebaik-baiknya.
Bisa terjadi di suatu ketika nanti, di suatu tempat tertentu kita tidak memperoleh makanan yang kita mau, sehingga kita harus bisa menerima apa adanya.
Maka kebiasaan tidak memilih-milih apa yang akan dimakan ini akan sangat berguna.
Makanlah secukupnya jangan berlebihan, teratur pada waktunya.
Bila ini dilakukan, kita akan terhindar dari kegemukan yang hanya menambah beratnya beban tubuh yang disangga kaki dan akhirnya merusak kesehatan.
Di Zi Gui
Budi Pekerti Seorang Murid
Alih bahasa : S. Hamdi
Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha (21.04.2016)
Namo Buddhaya
"Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha"
Y. A. Shravasti Dhammika
21 April
Waktu itu, Sang Bhagava, setelah berdiam lama di Benares, pergi menuju ke Hutan Uruvela. Setelah berjalan beberapa lama, Beliau memasuki sebuah hutan kecil dan duduk di bawah sebatang pohon.
Pada saat itu sekitar tiga puluh orang dari kalangan atas bersama dengan istri mereka sedang bersenang-senang di hutan yang sama. Salah seorang dari kelompok tersebut tidak mempunyai istri, maka ia membawa seorang pelacur bersamanya. Ketika mereka sedang bersenang-senang , pelacur tersebut mencuri harta benda mereka dan melarikan diri. Maka orang-orang tersebut berusaha mengejarnya, dan ketika menjelajahi hutan, mereka melihat Sang Bhagava yang sedang duduk di bawah pohon. Mereka menghampiri Beliau dan bertanya, "Apakah Bhante melihat seorang wanita?"
"Orang muda, apa yang akan kau lakukan terhadap seorang wanita?" . Maka mereka menceritakan kepada Sang Bhagava apa yang telah terjadi dan mengapa mereka mencari wanita tersebut.
Dan Sang Bhagava berkata kepada mereka, "Apa yang kau pikirkan? Mana yang lebih baik? Mencari wanita itu atau mencari dirimu sendiri?".
"Sesungguhnya, Bhante, lebih baik mencari diri kami sendiri."
"Kalau begitu, duduklah dan aku akan membabarkan Dhamma untuk kalian "
Kemudian mereka duduk dan Sang Bhagava mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, seperti perbuatan baik, surga, bahayanya perbuatan jahat, kesia-siaan dan keburukan nafsu keinginan serta keuntungan lenyapnya nafsu tersebut.
Kemudian ketika Sang Bhagava mengetahui bahwa pikiran mereka telah siap, dapat menerima (ajaran), bebas dari rintangan, mendukung dan senang (untuk menerima), Beliau menjelaskan kepada mereka ajaran yang hanya dimiliki oleh para Buddha, yakni penderitaan, penyebab penderitaan, lenyapnya penderitaan , dan jalan untuk melenyapkan penderitaan.
BUDDHA VACANA
(Sabda-sabda Sang Buddha)
Penerbit Karaniya
Dhammapada BAB VII. ARAHANTA VAGGA – Arahat (5)
Dhammapada
BAB VII. ARAHANTA VAGGA – Arahat
(96)
Orang suci yang memiliki pengetahuan sejati, yang telah terbebas, damai dan seimbang batinnya, maka ucapan, perbuatan serta pikirannya senantiasa tenang.
Dhammapada Atthakatha :
(96) Kisah Seorang Samanera dari Kosambi
Suatu ketika, seorang anak berumur tujuh tahun menjadi samanera atas permintaan ayahnya. Sebelum rambut kepalanya dicukur, anak itu diberi sebuah objek meditasi. Ketika kepalanya sedang dicukur, ia memusatkan pikirannya dengan teguh pada objek meditasi, dan ia mencapai tingkat kesucian arahat ketika mereka selesai mencukur rambut kepalanya.
Beberapa waktu kemudian, Tissa Thera, disertai samanera tersebut, pergi ke Savatthi untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. di tengah perjalanan mereka bermalam di sebuah vihara desa. Tissa thera tidur, tetapi samanera muda duduk sepanjang malam di samping kasur Tissa thera. Pada waktu fajar menyingsing, Tissa Thera berpikir bahwa sudah saatnya membangunkan samanera muda. Ia membangunkan samanera dengan kipas daun palemnya, tetapi secara tidak sengaja mata samanera terpukul oleh tangkai kipas dan matanya rusak.
Samanera menutup matanya dengan satu tangan dan pergi melaksanakan tugasnya mempersiapkan air pencuci muka dan mulut Tissa Thera, menyapu lantai vihara dan lain-lain. Ketika samanera muda mempersembahkan air dengan satu tangan kepada Tissa Thera, Tissa Thera mencelanya dan berkata bahwa ia seharusnya mempersembahkan dengan dua tangan.
Saat itulah Tissa Thera baru mengetahui bagaimana samanera itu rusak matanya. Seketika itu juga ia menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan terhadap seorang manusia yang sungguh-sungguh mulia. Merasa sangat menyesal dan merasa dirinya rendah, ia memohon maaf kepada samanera.
Tetapi samanera berkata bahwa itu bukan kesalahan Tissa Thera, juga bukan kesalahannya sendiri, tapi merupakan buah/akibat perbuatan (karma) lampau, dan Tissa Thera tidak usah merasa terlalu sedih mengenai hal tersebut.
Tetapi Tissa Thera tidak dapat mengatasi kekecewaan atas kesalahan yang tak dikehendakinya.
Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Savatthi dan sampai di Vihara Jetavana dimana Sang Buddha menetap. Tissa Thera berkata kepada Sang Buddha bahwa samanera muda yang datang bersamanya adalah seorang yang paling mulia yang pernah ia temui, dan dikaitkan dengan apa yang terjadi dalam perjalanan mereka.
Sang Buddha lalu menjawab: "Anakku, seorang arahat tidak akan marah dengan siapapun. ia sudah mengendalikan indrianya dan memiliki ketenangan yang sempurna."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:
"Santaṃ tassa manaṃ hoti santā vācā ca kamma ca
sammadaññāvimuttassa upasantassa tādino."
Orang suci yang memiliki pengetahuan sejati,
yang telah terbebas, damai dan seimbang batinnya,
maka ucapan, perbuatan serta pikirannya senantiasa tenang.
Renungan Malam (20.04.2016)
Namo Buddhaya
Renungan Malam
Memperlakukan orang lain dengan cinta kasih dan welas asih berarti membantu, memaafkan, menerima dan menggugah hatinya.
Kebijaksanaan dalam menangani permasalahan adalah menghadapi, menerima, menangani dan meletakan permasalahan itu.
-- Master Sheng Yen--
108 Pepatah Bijak
Dian Dharma
Melafal Amituofo
Pertanyaan :
Kapan waktu yang sesuai untuk melakukan kebaktian pagi dan sore? Melafal Amituofo hingga tasbih jatuh ke lantai, apakah ini berarti tidak hormat pada Buddha?
Master Chin Kung Menjawab :
Melafal Amituofo hingga tasbih terjatuh ke lantai, mungkin anda sudah mengantuk, jika sudah capek maka jangan paksakan diri. Waktu yang sesuai untuk melakukan kebaktian pagi dan sore itu tergantung pada keleluasaan masing-masing, tak perlu seperti vihara yang ada jadwalnya dari jam sekian sampai jam sekian, karena pekerjaan masing-masing berbeda, kehidupan dan kebiasaan juga tidak sama.
Kesimpulannya, Buddha Dharma adalah menuruti jalinan jodoh, Buddha Dharma menuruti kehendak para makhluk, barulah kita bisa menerimanya dengan penuh sukacita.
Dalam keseharian pukul berapa bangun pagi, setelah anda menetapkan jadwal anda, habis bersih-bersih maka lakukanlah kegiatan pagi, jika anda memiliki waktu luang yang panjang maka lakukanlah dengan agak lama, sebaliknya jika waktu anda mendesak maka lakukanlah dengan singkat.
Harus menyesuaikan dengan kebiasaan hidup sendiri, juga menyesuaikan dengan keluarga sendiri, jangan karena sudah belajar Ajaran Buddha, malah menambah kerisauan anggota keluarga, ini sudah salah.
Jangan sampai malah beranggapan : “Saya melafal Amituofo dalam jumlah banyak dan waktu yang panjang maka Buddha pasti bersukacita”, Buddha memang bersukacita tapi anggota keluarga anda malah jadi kesal, ini sudah salah.
Haruslah agar seluruh anggota keluarga bersukacita barulah benar, jangan sampai keluarga menjadi risau, ini sangat penting
Mencapai Samadhi
Pertanyaan :
Master, anda selalu menganjurkan bahwa membaca sutra sebaiknya menfokuskan diri pada satu macam sutra saja, apakah ini menunjukkan bahwa sutra lainnya tidak perlu dipahami? Contohnya mendengar ceramah kaset dengan judul lain.
Master Chin Kung Menjawab :
Mendengar ceramah bisa membantumu mengembangkan kebijaksanaan, anda boleh mendengarnya, tetapi tak perlu membacanya, juga tak perlu mendalaminya, menyerap semampunya saja, sebaiknya mengerahkan segenap perhatian untuk melafal Amituofo.
Tetapi dengan menfokuskan diri pada satu macam sutra saja, akan mudah memperoleh samadhi, jika membaca terlalu banyak memang ada rintangannya. Jika pencerahan sudah tercapai barulah tidak masalah lagi, jika pencerahan belum tercapai maka harus dengan melatih samadhi sebagai tujuan utama.
Setelah mencapai pencerahan, maka “bertekad mempelajari pintu Dharma yang tak terhingga”, sedikit hambatan juga takkan ada sama sekali; praktisi yang belum mencapai pencerahan, haruslah memulai dari satu macam sutra hingga memperoleh samadhi dan mencapai pencerahan, ini adalah cara yang diturunkan oleh para guru sesepuh, sungguh efektif.
Dengan menfokuskan diri pada satu sutra, terserah anda mau pilih sutra yang mana saja juga bisa memperoleh samadhi, “pintu Dharma setara, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah”. Tetapi jika anda baca beragam jenis, pasti perhatianmu akan terpencar dan bercabang, terhadap pencapaian samadhi jadi ada hambatan.
Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha (20.04.2016)
Namo Buddhaya
"Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha"
Y. A. Shravasti Dhammika
20 April
Seseorang tidak mungkin mampu mengendalikan pikiran orang lain, tetapi paling tidak ia dapat menyatakan tekad, "Aku harus mampu mengendalikan pikiranku sendiri " . Dengan cara inilah engkau seharusnya melatih dirimu sendiri, dan dengan cara inilah pengendalian pikiran dilakukan.
Seorang wanita, pria, ataupun remaja yang gemar bersolek, ketika memperhatikan bayangan wajahnya pada cermin yang mengkilap atau pada permukaan air yang jernih, mungkin akan melihat cacat atau jerawat di wajahnya. Ia akan berusaha untuk melenyapkan hal itu. Dan bila ia tidak melihat lagi ada keburukan di wajahnya, ia akan merasa gembira dan puas serta berpikir, " Adalah suatu keberuntungan mempunyai wajah yang bersih."
Dengan cara yang sama, pemeriksaan diri akan memberikan hasil yang terbaik bila seseorang berpikir, "Apakah aku adalah seseorang yang selalu serakah dan penuh kebencian, diliputi oleh kemalasan dan kelambanan, dengan pikiran yang penuh nafsu keinginan dan keragu-raguan serta kemarahan, ataukah aku bukan orang semacam itu?
Apakah aku selalu hidup dengan pikiran kotor atau pikiran bersih?
Dengan tubuh penuh nafsu ataukah tidak, malas ataukah penuh semangat, tak terkendali atau terkendali dengan baik?
Bila dalam pemeriksaan diri, seseorang menemukan bahwa ia hidup dengan kondisi-kondisi buruk yang merugikan tersebut, ia harus menumbuhkan keinginan yang kuat, berusaha keras, penuh perhatian dan kesadaran untuk melenyapkan mereka.
Dan bila dalam pemeriksaan diri, seseorang menemukan bahwa ia tidak hidup dengan kondisi-kondisi buruk yang merugikan tersebut, ia harus berusaha untuk membangun kondisi-kondisi yang menguntungkan dan lebih jauh lagi, menghancurkan kekotoran batin yang ada.
BUDDHA VACANA
(Sabda-sabda Sang Buddha)
Penerbit Karaniya
Dhammapada BAB VII. ARAHANTA VAGGA – Arahat (4)
Dhammapada
BAB VII. ARAHANTA VAGGA – Arahat
(95)
Bagaikan tanah, demikian pula orang suci.
Tidak pernah marah, teguh pikirannya bagaikan tugu kota (indakhila),
bersih tingkah lakunya bagaikan kolam tak berlumpur.
Bagi orang suci seperti ini tak ada lagi siklus kehidupan.
Dhammapada Atthakatha :
(95) Kisah Sariputta Thera
Pada suatu akhir masa vassa, Sariputta Thera berangkat untuk suatu perjalanan bersama dengan beberapa pengikutnya. Seorang bhikkhu muda pengikutnya, yang memiliki dendam terhadap Sariputta Thera, mendekat kepada Sang Buddha dan menfitnah dengan mengatakan bahwa Sariputta Thera telah mencaci dan memukulnya.
Sang Buddha memanggil Sariputta Thera dan menanyakan: apakah hal itu benar?
Sariputta menjawab, "Bhante, bagaimana mungkin seorang bhikkhu, yang teguh menjaga pikirannya, berangkat dalam suatu perjalanan tanpa meminta maaf setelah melakukan kesalahan terhadap sesama bhikkhu ? Saya seperti tanah yang tidak merasa suka ketika dijatuhi bunga dan tidak merasa marah ketika sampah dan kotoran teronggok di atasnya. Saya juga seperti keset, pengemis, kerbau jantan yang tanduknya patah, saya juga merasa jijik dengan kekotoran tubuh dan tidak lagi terikat dengan itu."
Ketika Sariputta Thera berbicara, bhikkhu muda itu merasa sangat sedih dan menangis tersedu-sedu. Akhirnya ia mengaku bahwa ia berbohong perihal Sariputta. Kemudian Sang Buddha menyarankan kepada Sariputta Thera untuk menerima permohonan maaf bhikkhu muda itu. Jika tidak, akibat yang berat akan menimpa diri bhikkhu muda itu dan kepalanya bisa pecah. Bhikkhu muda mengakui bahwa ia bersalah dan dengan hormat meminta maaf. Sariputta thera memaafkan bhikkhu muda itu dan beliau juga meminta maaf apabila beliau berbuat salah.
Semua yang hadir memuji Sariputta Thera, dan Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, seorang arahat seperti Sariputta tidak memiliki kemarahan atau keinginan jahat.
Seperti tanah dan tugu kota, ia sabar, toleran, teguh, seperti danau yang tak berlumpur, ia tenang dan bersih."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:
"Paṭhavīsamo no virujjhati
indakhīlūpamo tādi subbato
rahado va apetakaddamo
saṃsārā na bhavanti tādino."
Bagaikan tanah, demikian pula orang suci.
Tidak pernah marah, teguh pikirannya bagaikan tugu kota (indakhila),
bersih tingkah lakunya bagaikan kolam tak berlumpur.
Bagi orang suci seperti ini tak ada lagi kelahiran kembali.
Renungan Malam (19.04.2016)
Namo Buddhaya
Renungan Malam
Permasalahan bila dapat diselesaikan , itu sangat bagus.
Jika tidak dapat diselesaikan atau mempunyai dampak negatif, juga jangan dipikirkan.
Sepanjang kita telah melakukan yang terbaik, tidaklah perlu mengeluh dan menyalahkan orang lain.
-- Master Sheng Yen--
108 Pepatah Bijak
Dian Dharma
Kerendahan Hati Semu
Namo Buddhya, selamat siang
KERENDAHAN HATI SEMU
Sumber Tulisan : ILLUMINATA-Be Happy
Kita bisa amati bahwa kerendahan hati yang semu dapat berkembang sedemikian rupa sehingga orang bisa MERASA benar-benar rendah hati. Hal ini bisa sangat menakutkan!
Kadang-kadang kita secara tidak sengaja menjadi korban hal ini... Beberapa dari kita, terkadang dituduh kurang rendah hati dan tulus. Oleh karenanya, ada orang yang belajar terlalu cepat dan terlalu keras untuk menjadi rendah hati dan tulus, tanpa PERHATIAN yang benar dan memadai.
Yang dimaksud dengan PERHATIAN yang kurang benar dan kurang memadai adalah bahwa perhatian orang semacam itu hanyalah cukup untuk menjaga pikiran dan perbuatannya terhadap orang lain. Perhatian itu BELUM menembus ke dalam pikirannya sendiri!
Ia bisa menjadi sungguh rendah hati, namun hanya dengan tujuan untuk memberikan kesan yang baik. Dan niat untuk memberikan kesan baik ini terasa seperti AKTUALISASI DIRI yang sehat, padahal ini adalah "KESOMBONGAN" yang justru merupakan hambatan bagi pengembangan spiritual. Orang menjadi tidak jujur kepada diri sendiri dan dunia tanpa menyadarinya.
Para orang bijak tidak memiliki aktualisasi diri karena mereka tidak memiliki diri (ego). Karena tidak memiliki ego, mereka bisa untuk tidak mementingkan diri sendiri. Mereka tidak perlu merendahkan hati karena pada hakikatnya mereka tidak memiliki keangkuhan untuk ditaklukkan. Namun demikian, kita melihat sosok yang menyenangkan secara alamiah dari seorang yang agung, semuanya ALAMI tanpa "perasa" maupun "pengawet", mengatasi semua pretensi dan pertentangan di dalam batin. Betul-betul damai dan menyegarkan!
Waspadalah terhadap kerendahan hati yang semu—kurangi keterpaksaan untuk menjadi rendah hati—jadilah alami!
Catatan: Dalam teori hirarki kebutuhan Maslow yang tersohor, dikatakan bahwa pemenuhan kebutuhan tertinggi seseorang adalah AKTUALISASI DIRI (self-actualization). Tidak banyak yang tahu bahwa menjelang akhir hayatnya Maslow meralat teorinya, yang mana pencapaian tertinggi seharusnya adalah MELEPASKAN DIRI (self-transcendence)—meninggalkan pemuasan keinginan diri nan tiada habis.
Be Happy!
Menolong Orang Sakit Mental
Namo Buddhaya
Bagaimana Anda menolong orang yang sakit mental?
Ya, baik luar biasa. Caraku menyembuhkan orang sakit mental adalah mencoba meminta orang tersebut untuk menganalisis sifat dasar dari masalahnya sendiri.
Saya mencoba menunjukkan kepadanya sifat asli batinnya, sehingga melalui batinnya sendiri, dia bisa mengerti masalah-masalahnya. Bila dia mampu melakukannya, maka dia dapat memecahkan masalahnya sendiri.
Saya tidak yakin bahwa saya mampu memecahkan masalah-masalahnya dengan hanya berbicara sepatah dua patah kata kepadanya. Itu boleh jadi membuat dia merasa lebih sedikit baik, tetapi penyembuhan seperti itu hanya bersifat sementara saja.
Sumber utama berbagai permasalahannya berakar dalam batinnya ; selama hal itu masih ada, apabila terjadi sedikit perubahan keadaan, maka akan menyebabkan lebih banyak masalah lagi.
Metodeku adalah meminta dia memeriksa hatinya sendiri dengan tujuan agar secara bertahap dia melihat sifat asli batinnya.
Saya pernah menasehati orang lain dan memicu dia berpikir, "Oh, bagus, masalahku sudah selesai" hanya dengan sepatah dua patah kata, Lama menyelesaikan semua masalahku, tetapi itu hanya tipuan belaka. Ini hanyalah khayalan dia semata. Hal ini mustahil. Tidak ada jalan lain untuk mengerti masalah-masalah batinmu sendiri selain menjadi psikolog bagi dirimu sendiri.
Yang Mulia Lama Thubten Yeshe
Jadikan Batinmu Seluas Samudra
Penerbit PVVD Bandung
Fanatik
Fanatik
Sumber Tulisan: Artikel Buddhis
"Wah elu belum tahu yah, si Tik-tok itu orangnya fanatik berat deh! Kayaknya dianya yang paling benar aja. Gaya bicarannya seperti orang suci aja. Bosen deh".
Apakah Anda sebagai seorang aktivis Buddhis pernah mendengar ocehan semacam itu? Atau anda yang sering dituduh begitu? Hal ini tak jarang anda jumpai bila Anda sering berkomunikasi dengan orang lain. Lantas apakah Anda akan mundur, menarik langkah-langkah Anda yang telah tertapak. menyerah karena kritikan-kritikan dan baru mau jalan bila mendapat berbagai pujian?
Sang Buddha bersadha pada pemula Atula, "Ini pepatah kuno O Atulaw! Bukan hanya sekarang; mereka mencela orang yang duduk diam, pun mencela orang yang banyak bicara. Mereka juga mencela orang yang sedikit bicara. Tiada seorang pun yang tidak dicela".
Dengan demikian kita tak perlu dengar pada kritikan. Kita dapat mengambil manfaat dari kritikan-kritikan dengan berpikir secara bijaksana, mengambil masukan yang memang baik dan benar. Tidak semua kritikan itu buruk.
Kemanisan adalah penyakit. Kepahitan adalah obat. Sanjungan bagaikan manisan. Jika berlebihan dapat mendatangkan sakit. Kritikan bagaikan pil pahit. Bagai alat suntik yang menyakitkan. Tapi terkadang dapat menyembuhkan.
Di lain pihak ada kasak-kusuk, 'mbok' kita sebagai umat Buddha sedikit banyak menunjukkan eksistensi (keberadaan) dalam mengembangkan sayap-sayap, salah satu carannya adalah menanamkan rasa memiliki, percaya diri, dan sedikit banyak rasa peka atau fanatik terhadap agama kita, karena dengan menanamkan semangat besar dan diselipkan rasa fanatik yang tak over dosis, kita akan mampu maju, mampu menggerakkan sayap-sayap yang telah lama membeku. Tanamkanlah jiwa kefanatikan secukupnya agar umat Buddha terutama generasi muda sebagai ujung tombak tidak melempem dalam menunjukkan kiprahnya, agar tak mudah goyah diterjang ajaran-ajaran lain, agar umat Buddha tidak banyak yang lari pindah ke agama lain, agar........ ya, masih banyak lagi!
Lepas dari pentingnya rasa fanatik itu, marilah kita coba kupas dari salah satu sisi, apa sebenarnya fanatik itu?
'Fanatik" menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia terbitan PN Balai Pustaka diartikan sebagai teramat kuat kepercayaannya (keyakinannya) terhadap ajaran (politik, agama, dsb).
Memang sepantasnya sebagai umat Buddha kita menambah pengetahuan dhamma kita, agar benang-benang keyakinan dalam diri kita semakin terjerat erat. Namun dalam perkembangannya saat ini, kefanatikan justru mengakibatkan semakin dalamnya jurang antara berbagai sekte dalam agama Buddha sendiri.
Banyak yang salah mengartikan dan menerapkan kefanatikan itu. Kefanatikan yang ditanamkan umumnya hanya untuk kepentingan golongannya sendiri, sehingga tidak jarang anta sesama umat Buddha sendiri saja sering terjadi sikut-menyikut, dan gontok-gontokan. Siapa kuat siapa menang. Apa itu tujuan kita?
Masing-masing pihak selalu berusaha menunjukkan bahwa merekalah yang terbaik.
Agama Buddha pernah menjadi agama negara, yakni pada masa pemerintahan Sriwiwjaya dan Mojopahit, namun kemudian perkembangannya menjadi mundur, seakan Buddhisme terlelap untuk waktu yang cukup lama. Hingga pada awak abad ke 20 Buddhisme mulai bangkit dari tidur panjangnya di bumi Nusantara. Dalam perkembangannya lahirlah berbagai organisasi Buddhis, muncuk dengan tekaed mengemban misi suci "mengembangkan Buddha Dhamma di bumi pertiwi ini", walau pada akhirnya malah dapat dirasakan agama Buddha di Indonesia sedikit umatnya, namun sarat dengan beragam organisasi. Hal ini lebih diperparah lagi dengan jarak yang makin melebar antar organisasi-organisasi tersebut.
"Sangat disayangkan sekarang ini generasi mudanya berkelompok, dipengaruhi oleh para senior yang fanatik terhadap kelompoklnya dalam arti sempit. Seharusnya kita membina umat, terutama generasi muda tidak menuju kefanatikan yang membuta, tapi membimbing mereka ke arah yang baik sesuai ajaran yang benar," ujar seorang pemuka Buddhis.
Lantas di luar keburukan-keburukan itu, apakah tiada nilai-nilai positif yang terpenting yang dapat diambil dari kefanatikan itu? Mari kita renungkan sejenak.
Kita ambil contoh dari luar Buddhis, dimana kemajuan suatu organisasi/agama amat tergantung dari pengikut-pengikutnya. Mereka dapat maju karena rasa memiliki yang amat dalam. Dalam bahasa kasarnya, rasa kefanatikan mereka amat tebal, sehingga mampu memberikan suatu gaya tarik yang besar.
Buddhisme bukan untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Kita bukan mau mempropagandakan agama Buddha, tapi kita hanya membabarkan ajaran Sang Guru Junjungan kita, Sang Buddha, kilah kita.
Lantas mau apa lagi?
[Dikutip dari Majalah Dharma Prabha No.14. Dimuat atas izin GMCBP, Yogyakarta]
Perubahan Hidup
Namaste Sotthi hontu.
Pagi bahagia. Pagi pebuh senyum ceria dgn rasa syukur dan berkah.
RENUNGAN: "perubahan hidup"
👉Banyak orang iseng, juga ada yang serius; untuk mengetahui sampai ingin mengubah hidupnya, dengan melalui dari garis tangannya.
👉Kalau secara dhamma, mengubah hidup sebaiknya dimulai dari niatnya; semakin kuat memiliki niat untuk berubah, maka akan semakin baik.
👉NIAT BAIK untuk mengubah menjadi baik.
👉BERUSAHA untuk mewujudkan mengubah menjadi baik.
👉YAKIN bahwa perubahan, untuk menjadi baik bisa dicapai.
👉SABAR perubahan hidup itu, perlu waktu.
✋Ingat, jangan sandarkan perubahan hidup, dari garis tangan; awali perubahan hidup itu dari niat, usaha, keyakinan, dan kesabaran, hidup akan berubah menjadi lebih baik.
📝{B.Saddhaviro}
Merekam Dhamma Dalam Pikiran
Namo Buddhaya, selamat pagi teman-teman sedhamma
Merekam Dhamma Dalam Pikiran
Ven Ajahn Chah
Untuk melepaskan kejahatan dan menggali kebaikan kita tidak harus pergi mencari ke mana-mana. Jika pikiran sedang jelek jangan melihat ke orang yang ini atau yang itu. Lihatlah pikiran kita sendiri dan carilah dari mana pikiran-pikiran itu muncul. Mengapa pikiran ini berpikir sedemilian rupa? Pahamilah ini: segala sesuatu adalah sementara. Cinta adalah sementara, benci demikian pula. Pernahkah kita mencintai anak-anak kita? Tentu saja. Pernahkah kita membenci mereka? Saya akan menjawab… kadangkala. Benar ‘khan? Bisakah kita membuang mereka? Tidak. Mengapa? Anak-anak bukanlah seperti peluru yang ditembakkan ke luar, anak-anak ditembakkan balik pada orang tua. Jika mereka baik, mereka anak-anak kita. Jika jelek pun, mereka juga tetap anak-anak kita. Kita dapat berkata bahwa anak adalah kamma kita. Ada yang baik ada yang buruk. Tetapi, baik ataupun buruk, mereka tetap anak kita. Bahkan yang buruk pun berharga. Ada yang mungkin terlahir sakit polio, cacat tubuh, tetapi bisa menjadi lebih berarti dibanding anak lainnya. Setiap kali akan pergi kita meninggalkan pesan: “Tolong jagai si kecil ini, dia tidak begitu mampu”. Kita mencintainya lebih dari yang lain.
Jika begitu kita harus menyeimbangkan pikiran: setengah cinta, setengah benci. Jangan hanya mengambil satu sisi, selalu lihatlah dari kedua sisi. Anak-anak adalah kamma kita, semua sesuai dengan hukumnya sendiri. Mereka adalah kamma kita, kita harus bertanggung jawab terhadapnya. Jika mereka betul-betul memberi kita penderitaan, kita ingatkan diri kita: “Ini kammaku”. Jika mereka menyenangkan, kita ingatkan diri kita: “Ini kammaku”. Kadangkala begitu frustasinya kita di rumah sehingga kita ingin melarikan diri. Beberapa malahan begitu frustasi sehingga mereka bunuh diri. Ini adalah kamma. Kita harus menerima kenyataan. Hindarilah perbuatan jelek. Dengan demikian kita akan dapat melihat diri kita sendiri dengan lebih jelas.
Inilah sebabnya sangat penting bagi kita untuk merenungkan segala sesuatu. Biasanya saat meditasi kita menggunakan suatu obyek, misalkan Buddho, Dhammo, atau Sangho. Tetapi kita dapat membuatnya lebih singkat. Pada saat pikiran kita jelek atau jengkel, katakanlah “A-ha!”. Ketika perasaan kita enak, katakanlah “A-ha!… ini bukanlah hal yang pasti”. Jika kamu mencintai seseorang, katakan “A-ha”. Demikian juga saat kamu akan marah. Kamu tidak perlu mencari di Tipitaka. Katakan saja “A-ha”. Ini berarti “tidak kekal”. Cinta, benci, baik, buruk, semua tidak kekal. Bagaimana bisa kekal? Di mana unsur kekekalannya?
Dapat kita katakan bahwa semuanya itu hanya permanen dalam ketidak-permanennannya. Menit ini ada cinta, menit berikutnya timbul benci. Begitulah adanya. Sifat berubahnya inilah yang permanen. Maka dari itu saya katakan bahwa ketika timbul cinta, katakanlah “A-ha”. Ini menghemat banyak waktu. Kita tidak harus mengatakan “Anicca, dukkha, anatta”. Jika kita tidak menginginkan tema meditasi yang panjang, gunakan saja kata yang singkat ini… katakan saja: “A-ha”.
Nah, jika semua orang lebih sering mengatakan “A-ha”, dan melatihnya dalam kehidupan sehari-hari, maka kemelekatan akan semakin berkurang. Orang tidak akan tersuruk dalam cinta dan benci. Mereka tidak akan melekat kepada hal-hal demikian. Mereka akan menaruh kepercayaan terhadap kebenaran dan bukan yang lain. Sudah cukup bagi kita untuk mengetahui sebegini saja. Apalagi yang ingin kita ketahui?
Setelah mengetahui ajaran ini, kita harus selalu mencoba untuk mengingatnya. Apa yang harus diingat? Meditasi…. Mengerti, bukan? Kalau kita mengerti, dan Dhamma menyatu dengan kita, pikiran akan berhenti. Jika ada kemarahan dalam pikiran, hanya “A-ha”.. dan itu cukup, berhenti di situ. Jika belum benar-benar mengerti, lihatlah lebih dalam ke pokok masalahnya. Jika ada pengertian, ketika kemarahan timbul di dalam pikiran, kita dapat membungkamnya dengan berkata “A-ha, inipun tidak kekal”.
Yang paling penting adalah perekam yang ada di pikiran kita. Bacaan ini dapat musnah begitu saja tapi jika Dhamma telah dapat terekam dengan baik di dalam pikiran, itu tidak akan dapat dimusnahkan, akan berada di situ selamanya.
Hujan Kebijaksanaan
Hujan Kebijaksanaan
Ketika mendengarkan ceramah Dharma atau membaca buku Dharma; tentu tujuannya bukanlah untuk mendapatkan konsep dan ide.
Malah, sebenarnya untuk melepaskan konsep dan ide,
Kamu tidak harus mengganti konsep lama dan ide-idemu dengan yang baru.
Ceramah atau tulisan harus seperti hujan yang dapat menyentuh kebijaksanaan dan kebebasan dalam dirimu.
Itulah sebabnya mengapa kita harus belajar cara mendengar yang baik.
Kita mendengar atau mebaca bukan untuk menerima lebih banyak gagasan dan konsep, tetapi untuk membebaskan diri dari gagasan dan konsep.
Apa yang penting bukanlah untuk mengingat apa yang dikatakan, tetapi bahwa kamu bebas!
Sumber: "Rumah Sejatimu" - Thich Nhat Hanh
Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha (19.04.2016)
Namo Buddhaya
"Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha"
Y. A. Shravasti Dhammika
19 April
Aku (Tathagata) akan mengajarkan kepadamu tentang Cermin Dhamma, yang jika dimiliki oleh seseorang, pemiliknya akan berkata dengan penuh percaya diri, "Terlahir kembali di alam neraka, sebagai binatang maupun setan adalah tidak mungkin bagiku. Aku adalah makhluk yang telah 'memasuki arus' yang telah selamat dari terlahir di alam yang menderita. Aku sedang dalam jalan menuju pencerahan."
Dan apakah Cermin Dhamma itu?
Tentang hal ini, seorang siswa utama mempunyai keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha dan berpikir , " Demikianlah sesungguhnya Sang Bhagava, Buddha yang maha mulia, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan dan perbuatan-Nya, sempurna menempuh jalan (ke Nibbana), pengenal segenap alam, pembimbing umat manusia yang tiada bandingnya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan."
Ia juga mempunyai keyakinan yang tak tergoyahkan kepada Dhamma dan berpikir, "Dhamma Sang Bhagava yang telah dengan sempurna dibabarkan adalah sangat jelas, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan,membawa kemajuan dan dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing.
Dan ia juga mempunyai keyakinan yang tak tergoyahkan pada Sangha dan berpikir, "Berbuat dengan gembira adalah ciri Sangha siswa Sang Bhagava, berbuat lurus adalah ciri siswa Sang Bhagava, berbuat benar adalah ciri siswa Sang Bhagava, berbuat patut adalah ciri siswa Sang Bhagava, yaitu empat pasang makhluk yang terdiri dari delapan jenis makhluk suci. Sangha siswa Sang Bhagava juga patut menerima persembahan, keramahan dan penghormatan.
Mereka adalah sumber kebajikan yang tiada bandingnya di alam semesta ini.
Siswa utama tadi juga mempunyai kebajikan yang diagungkan oleh Sang Tathagata, yaitu kebajikan yang lengkap, sempurna, tak ternoda dan murni, kebajikan yang bebas, dipuji oleh para bijaksana, tak terpengaruh oleh keduniawian, serta mengarah pada konsentrasi.
BUDDHA VACANA
(Sabda-sabda Sang Buddha)
Penerbit Karaniya
Renungan Malam (18.04.2016)
Namo Buddhaya
Renungan Malam
Setiap hari, segera setelah Anda bangun, Anda bisa mengembangkan sebuah motivasi positif yang tulus dengan berpikir, "Saya akan menjalani hari ini dengan lebih positif. Hari ini tidak akan saya sia-siakan."
Dan di malam hari, sebelum Anda tidur, renungkanlah apa yang Anda sudah lakukan hari ini, tanyakan kepada diri Anda sendiri, "Apakah hari ini saya sudah melakukan apa yang sudah saya rencanakan?"
Y. M. Dalai Lama XIV
Esensi Kebahagiaan
Dian Dharma
Dhammapada BAB VII. ARAHANTA VAGGA – Arahat (4)
Dhammapada
BAB VII. ARAHANTA VAGGA – Arahat
(94)
Ia yang telah menaklukkan dirinya,
bagaikan seorang kusir mengendalikan kudanya,
yang telah bebas dari kesombongan dan kekotoran batin,
maka para dewa pun akan mengasihi orang suci seperti ini.
Dhammapada Atthakatha :
(94) Kisah Mahakaccayana Thera
Pada saat bulan purnama, yang juga merupakan akhir masa vassa, Sakka bersama sejumlah besar dewa datang untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, yang pada saat itu tinggal di Pubbarama, sebuah vihara yang dibangun oleh Visakha. Waktu itu Sang Buddha disertai oleh murid-murid utama dan semua bhikkhu senior.
Mahakaccayana Thera yang bervassa di Avanti, belum tiba dan tempat duduk untuk beliau masih kosong. Sakka memberi hormat kepada Sang Buddha dengan bunga, dupa, dan wewangian. Pada saat Sakka melihat tempat duduk yang masih kosong, ia menyatakan bahwa ia berharap Mahakaccayana Thera segera datang agar ia dapat memberi hormat juga kepadanya. Seketika Mahakaccayana Thera datang, Sakka sangat senang dan dengan bersemangat mempersembahkan bunga, dupa, dan wewangian.
Para bhikkhu terpesona oleh Sakka yang menunjukkan kesetiaannya kepada Mahakaccayana, tetapi beberapa bhikkhu berpikir bahwa Sakka hanya menyukai Mahakaccayana.
Kepada mereka sang Buddha berkata "Seseorang yang terkendali indrianya dicintai oleh para dewa dan manusia."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:
"Yass’ indriyāni samathaṃ gatāni
assā yathā sārathinā sudantā
pahīnamānassa anāsavassa
devāpi tassa pihayanti tādino."
Ia yang telah menaklukkan dirinya,
bagaikan seorang kusir mengendalikan kudanya,
yang telah bebas dari kesombongan dan kekotoran batin,
maka para dewa pun akan mengasihi orang suci seperti ini.
SIGĀLA-JĀTAKA
Namo Buddhaya
SIGĀLA-JĀTAKA
“Serigala mabuk itu,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta. Para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran dan bercerita tentang bagaimana Devadatta telah pergi ke Gayāsīsa bersama lima ratus orang pengikut, yang dituntunnya kepada ajaran yang salah dengan mengatakan bahwa Dhamma sebenarnya ada pada dirinya, “bukan pada Petapa Gotama”, dan bagaimana kebohongannya telah memecah belah Sanggha, serta bagaimana ia melaksanakan dua hari Uposatha dalam seminggu. Saat mereka duduk di sana membicarakan keburukan Devadatta, Sang Guru masuk ke dalam balai tersebut dan diberitahukan mengenai apa yang sedang mereka bicarakan. “Para Bhikkhu,” kata Beliau, “Devadatta adalah seorang pembohong besar di kehidupan yang lampau, sama seperti di kehidupan ini.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau berikut ini.
____________________
Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa pohon yang terdapat di sebuah pemakaman. Pada masa itu sebuah perayaan diumumkan di Benares, dan orang-orang memutuskan untuk memberikan persembahan kepada para yaksa. Maka mereka menyebarkan ikan dan daging di halaman-halaman rumah, di jalan-jalan dan tempat-tempat lainnya, serta menempatkan kendi-kendi yang berisi minuman keras. Di tengah malam, seekor serigala datang ke kota melalui selokan, dan menghibur diri dengan daging dan minuman keras itu. Merangkak ke dalam semak belukar, dengan cepat ia terlelap hingga fajar tiba.
Bangun dan melihat hari telah pagi, ia tahu ia tidak bisa kembali dengan aman di waktu demikian. Maka ia berbaring tanpa suara di dekat pinggir jalan dimana ia tidak terlihat, sampai akhirnya ia melihat seorang brahmana (pengembara) yang sedang dalam perjalanan untuk mencuci muka di kolam. Serigala itu berpikir, “Para brahmana adalah orang yang serakah. Saya harus memanfaatkan keserakahannya untuk membuatnya mengeluarkan saya dari kota melalui kain pinggang di bawah jubah luarnya.” Maka, dengan suara manusia, ia berseru, “Brahmana.”
“Siapa yang memanggil saya?” tanya brahmana tersebut, sambil memutar tubuhnya. “Saya, Brahmana.” “Ada apa?” “Saya mempunyai dua ratus keping emas, Brahmana; jika engkau bersedia menyembunyikan saya di kain pinggang di bawah jubah luarmu dan membawa saya keluar dari kota tanpa terlihat, engkau akan mendapatkan semua emas itu.”
Sepakat dengan tawaran tersebut, brahmana yang serakah menyembunyikan serigala itu dan membawa hewan buas itu keluar dari kota. “Tempat apakah ini, Brahmana?” tanya serigala tersebut. “Oh, ini adalah tempat anu,” jawab brahmana itu. “Pergilah lebih jauh sedikit,” kata serigala itu, dan terus berdebat dengan brahmana itu, selalu memintanya berjalan lebih jauh sedikit, hingga akhirnya mereka tiba di tempat pemakaman.
“Turunkan saya di sini,” kata serigala; brahmana itu menuruti permintaannya. “Bentangkan jubahmu di tanah, brahmana.” Brahmana yang serakah itu melakukan hal tersebut.
“Sekarang gali pohon ini sampai pada bagian akarnya,” katanya, dan saat brahmana tersebut sedang bekerja, ia berjalan ke arah jubah itu, membuang kotoran disana dan merusaknya di lima tempat — di keempat sudut dan di bagian tengah. Setelah selesai, ia melarikan diri ke hutan.
Bodhisatta berdiri di cabang pohon, mengucapkan syair berikut ini : —
Serigala mabuk itu, Brahmana, menipu kepercayaan yang engkau berikan!
Engkau tidak akan menemukan seratus kulit sapi,
apalagi keinginanmu akan dua ratus keping emas.
Setelah mengulangi syair ini, Bodhisatta berkata kepada brahmana tersebut, “Pergilah sekarang, cuci jubahmu dan mandi, lanjutkan perjalananmu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia lenyap dari pandangan, dan brahmana itu melakukan apa yang dikatakan olehnya, ia pergi dengan malu karena telah diperdaya.
___________________
Uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah serigala di masa itu dan Saya adalah dewa pohon.”
Sumber: ITC, Jataka Vol 1
Percaya Buddha = Masuk Surga
Namo Buddhaya, selamat siang teman-teman sedhamma
Percaya Buddha = Masuk Surga
Oleh: Teddy Teguh Raharja
Sumber : Mattakundalini Vimana, Vimanavattu, bagian dari Tipittaka
Waktu itu Sang Buddha sedang tinggal di hutan Jeta, di daerah Savathi. Di daerah itu ada seorang Brahmana ( Pendeta atau keturunan pendeta ) yang kaya, tapi pelitnya minta ampun.
Brahmana ini tidak pernah memberikan sumbangan apapun kepada siapapun. Sehingga masyarakat menjulukinya “ Si Pelit “
Bahkan untuk kebutuhan keluarganya sendiri, kalau bisa dibuat atau dikerjakan sendiri, tidak perlu membeli. Misalnya untuk perhiasan istrinya, dibuat sendiri, kalau sakit obatnya diramu
sendiri. Bukan cuma itu, sebisa mungkin tamu yang datang juga hanya boleh sampai di teras, kalau bisa jangan sampai masuk ke dalam rumah. Supaya para tamu tidak melihat harta bendanya, takut kecolongan.
Orang ini punya anak yang bernama Mattakundalin. Anaknya ini dilarang mendekati Buddha dan muridNya., karena ayahnya khawatir kalau anaknya memberi persembahan pada Buddha, bisa-bisa menguras harta keluarga.
Suatu hari anaknya jatuh sakit. Si Brahmana mencoba mengobati sendiri, tetapi penyakit anaknya malah bertambah parah. Akhirnya Brahmana ini terpaksa memanggil dokter, setelah
diperiksa dokter mengatakan bahwa anaknya akan meninggal.
Kemudian Brahmana ini meletakkan anaknya di teras dengan harapan ada yang bisa menolong, dan jika ada yang menolong atau menjenguk, orang itu tidak perlu sampai masuk ke dalam rumah ( dasar orang gila ! ).
Pada pagi hari, Sang Buddha sedang bermeditasi mengamati dengan mata batin, siapa yang bisa ditolong pada hari itu. Tampak ayah dan anak itu dengan segala persoalannya, dan Beliau melihat bahwa mereka bisa ditolong. ( Sudah merupakan kegiatan harian Buddha. Di pagi hari buta, Beliau mencari tahu – dengan mata batin - siapa saja yang bisa ditolong pada hari itu. Yaitu mahluk-mahluk yang karma baiknya memungkinkan. Sungguh suatu keberuntungan yang luar biasa besar untuk bisa diselamatkan langsung oleh Buddha, dan ini membutuhkan karma baik yang luar biasa besar pula.)
Kemudian Buddha berjalan menuju rumah anak itu, dan berdiri di dekat rumahnya. Anak itu sedang berbaring sekarat. Ia tidak melihat Buddha karena kepalanya menghadap ke arah lain.
Untuk menarik perhatiannya Buddha menggunakan kesaktian. Tubuh Beliau mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Anak itu melihat cahaya ini, kemudian ia menoleh untuk mencari tahu
darimana asal cahaya. Ketika melihat cahaya itu berasal dari tubuh Buddha, ia merasa senang. Anak itu berpikir bahwa yang berdiri di dekatnya pastilah orang suci. Muncul keyakinan dalam dirinya bahwa memang benar Beliau orang suci. Sambil berbaring, anak itu memberi hormat dengan merangkapkan kedua telapak tangannya.
Setelah menyelesaikan tugasNya ( menanamkan keyakinan pada anak itu, yang menjadi modal untuk kebahagiaannya di masa datang ), Buddha melangkah pergi.
Tak lama kemudian, anak itu meninggal, dan muncul kembali sebagai dewa di surga Tavatimsa ( surga tingkat 2 ). Di sana ia tinggal di sebuah istana ( tidak perlu diceritakan lagi kalau
bangunannya besar dan indah ). Dewa baru itu melihat ( bekas) ayahnya sedang menangis di tempat pembakaran jenazah. Ia mau menolong ayahnya. Pertama, ia mau menghilangkan kesedihan ayahnya, kedua, ia mau ayahnya memiliki keyakinan pada Buddha.
Kemudian dewa muda itu turun ke alam manusia dan berubah wujud menjadi pemuda (yang sebaya pada waktu dia meninggal). Dia muncul di dekat ayahnya. Kemudian dia (bersandiwara) menangis sambil meratap “ oh bulan, oh matahari.”. Ayahnya terkejut karena seingatnya ia cuma sendirian disana. Sejak kapan orang ini ada di dekatnya ? Begitu pikirnya.
Kemudian Brahmana ini bertanya :
Brahmana ( B) : “ Anak muda, kenapa sedih ? “
Dewa ( D ) : “ Saya punya kereta mewah, tapi rodanya hilang. Saya sedih sekali. Rasanya mau mati saja. “
(B) : “ Tenang. Saya orang kaya. Biar roda keretamu terbuat dari emas sekalipun. Bisa saya belikan. Jangan sedih. “ ( Aneh, dia kan pelit, kenapa bisa jadi baik ? Mungkin karena dia sudah
merasakan sedihnya kehilangan. Sekarang jadi bisa lebih bisa ber-empati )
(D) : “ Tapi rodanya harus sebesar bulan atau matahari. “
(B) : “ Dasar gila ! Ya udah mendingan kamu mati saja. ! “
(D) : “ Mana yang lebih gila ? Saya menangisi yang masih ada ( bulan dan matahari ) atau bapak yang menangisi yang sudah tidak ada ( anaknya yang meninggal ). Mendengar ini, kesedihan si Brahmana berangsur-angsur menghilang.
(B) : “ Siapakah anda sebenarnya ? “ ( Si Brahmana sadar bahwa anak muda ini bukan orang biasa )
(D) : “ Saya adalah anak bapak yang mayatnya baru saja bapak bakar. Sekaranag saya jadi dewa di surga Tavatimsa. “
(B) : “ Tapi keluarga kita belum pernah melakukan perbuatan baik. Belum pernah menyumbang, belum pernah berpuasa atau yang semacam itu. Apa sebabnya kamu bisa menjadi dewa ? “
( Nah, ini fenomena menarik, orang pelit atau yang jahat sekalipun, ada yang hapal teori kebaikan. Kalau di sekolah ulangan agamanya dapat 100. Tapi kenapa dia masih pelit atau jahat ? Karena kebaikan yang dia tahu cuma sebatas teori. Belum disadari.)
(D) : “ Sesaat sebelum meninggal. Saya melihat Buddha, kemudian saya memiliki keyakinan pada Beliau ( Bahwa Beliau benar orang suci ). Lalu sya memberi hormat pada Buddha dengan merangkapkan kedua telapak tangan. Itulah sebabnya saya bisa menjadi dewa.. “ ( Menurut Tripitaka, para dewa pada umumnya punya kemampuan untuk mencari tahu perbuatan baik apa yang menyebabkan mereka bisa menjadi dewa. Beda dengan manusia, pada umumnya tidak tahu kenapa mereka terlahir di keluarga kaya / miskin, kenapa terlahir bahagia /
menderita )
(B) : “ Sungguh luar biasa ! Cuma begitu saja bisa jadi dewa ( masuk surga ). Bapak juga mau. “ Akhirnya brahmana ini menyatakan diri sebagai pengikut Buddha ( Masuk agama Buddha)
--------------===============--------------
Catatan :
Di kitab Vimanavattu, cerita berakhir sampai disini, tapi di kitab lain cerita ini masih ada kelanjutannya. Tapi sayangnya saya lupa ada di kitab mana dan cerita persisnya bagaimana.
Seingat saya, kira-kira seperti ini :
“.............Ketika Buddha sedang berkhotbah, Beliau menyinggung tentang Mattakundalin, anak brahmana yang bapaknya pelit, sekarang sudah masuk surga. Para hadirin pun jadi heboh. Mereka bertanya-tanya, perbuatan baik apa yang pernah dilakukannya ?
Kemudian Sang Buddha mengundang dewa Mattakundalin untuk datang di depan hadirin. Dewa ini muncul dalam wujud aslinya, sangat ganteng dan bersinar. Kemudian Buddha meminta
dewa ini untuk bersaksi..............( dan seterusnya).....”
Meditasi Zen
MEDITASI ZEN.
Dalam Zen disebutkan bahwa instruksi terbaik adalah tiada instruksi, dorongan terbaik adalah tiada dorongan. Ini memaksa Anda untuk menghentikan pikiran yang tergantung, mencari diri Anda sendiri dan berdiri diatas kaki sendiri.
Jika memiliki kesempatan adalah baik jika seseorang pergi ke Zendo berlatih bersama orang lain dan menerima bimbingan dan dorongan. Walaupun demikian, mereka yang tidak dapat melakukannya juga dapat berlatih sendiri. Bagaimana Anda berlatih tergantung pada Anda sepenuhnya dan dapat Anda lakukan ditempat mana pun yang Anda pilih. Tidak ada perbedaan dalam apa yang Anda lakukan saat Anda duduk disebuah Zendo atau pun di rumah. Mulailah dimana pun Anda berada. Begitu Anda melakukannya, kesempatan2 baru akan muncul dalam hidup Anda. Akhirnya saat Anda telah cukup terlatih, seluruh dunia akan menjadi Zendo Anda dan kemana pun Anda pergi, Anda akan serasa berada dirumah sendiri.
Tiga Kunci Bahagia
Namaste Sotthi hontu.
Pagi bahagia. Pagi penuh senyum ceria dgn rasa syukur dan berkah.
RENUNGAN PAGI: "Tiga Kunci Bahagia"
Jaman dahulu ada seorang perempuan yang mudah sekali terpancing amarah karena urusan sepele sekalipun. Dia menyadari kekurangannya ini, maka dia mengunjungi vihara dimana dia berharap bertemu dengan bhiksu kepala untuk mendapatkan siraman rohani, siapa tahu tabiatnya akan menjadi lebih baik.!Bhiksu setelah mendengarkan penuturannya, tanpa sepatah kata menggiringnya ke dalam sebuah ruang perenungan. Dengan meninggalkan sendiri wanita itu dalam ruang, bhiksu menguncinya dari luar !Itu sama sekali diluar dugaan wanita itu, dengan cepat meledaklah amarahnya ! Sambil berjingkrak-jingkrak dia mengomel keras. Setelah lelah mengomel, wanita itu mulai merengek-rengek, namun bhiksu itu sama sekali tidak menghiraukannya ! Wanita itu akhirnya diam.Tidak lama kemudian bhiksu itu kembali ke depan pintu dan bertanya : ” Apa kamu masih marah ? ”Perempuan itu menjawab : ” Saya hanya marah pada diri saya sendiri, kok begitu bodoh datang kesini untuk menjalani hukuman ini ! ””Orang yang bahkan dirinya sendiri saja tidak bisa memaafkan, mana bisa hatinya sejuk bagaikan air tenang ?” Bhiksu itu berlalu pergi sambil mengayunkan jubahnya.Sesaat kemudian bhiksu kembali lagi dan bertanya : ”Masih marah ?"”Tidak.” jawab perempuan itu.“Mengapa ? ”” Marah juga tidak ada gunanya ! ”” Kalau begitu, amarahmu sebenarnya masih belum hilang, karena masih di tekan dan tersimpan dalam hati. Bila nanti meledak akan jauh lebih dahsyat lagi .”Lewat beberapa saat, bhiksu itu datang kembali untuk ke tiga kalinya. Wanita itu menyambutnya sambil memberitahukan : ”Saya tidak marah lagi karena tidak patut marah ! ””Masih tahu patut dan tidak patut, dalam hatimu masih terlihat adanya pertimbangan-pertimbangan. Kamu masih menyimpan akar amarah !" Bhiksu itu menjawab sambil tertawa.Ketika matahari senja menyinari bhiksu yang berdiri didepan pintu, wanita itu bertanya lagi : ”Guru Besar, apa itu amarah ?"Bhiksu itu menjawab dengan perlahan-lahan menumpahkan air teh dari gelas yang dipegangnya keatas tanah. Perempuan itu memandangi adegan itu cukup lama……………. tiba-tiba dia mengerti apa yang hendak disampaikan sang guru kepadanya. Kemudian dia pamit dan pulang.Buat apa susah-susah mau marah-marah ? Amarah itu “benda” yang dibuang dan dilemparkan orang lain untuk kita, yang kita terima dan telan membuat kita kesal marah mau muntah ! Namun bila kita abaikan dan campakkan, “benda" itu dengan sendirinya akan terbang buyar hilang.Marah-marah adalah perbuatan bodoh karena menimpakan kesalahan orang lain untuk menghukum diri kita sendiri ! Kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup ini begitu melimpah ruah untuk dinikmati, buat apa buang-buang waktu untuk marah-marah !Menjadi orang baik sebenarnya cukup mudah, memiliki hati gembira sebenarnya juga sangat sederhana ! Barangkali 3 kunci dibawah ini dapat membantu :
( 1 ) Jangan menghukum diri sendiri dengan kesalahan yang dibuat sendiri !
( 2 ) Jangan menghukum orang lain dengan kesalahan kita !
( 3 ) Jangan menghukum diri sendiri dengan kesalahan yang diperbuat orang lain !
Kiranya ke 3 bisikan hati yang sangat polos ini boleh kita jadikan kunci membuka kebahagiaan hidup.
Membuat Batin Di Bawah Kendali Kita
Namo Buddhaya, selamat pagi, selamat beraktifitas kembali
Membuat Batin Di Bawah Kendali Kita.
Ven Ajahn Chah
Apa pun keadaan batin yang muncul, bahagia atau tidak bahagia, jangan dihiraukan---kita seharusnya senantiasa mengingatkan kita sendiri, "Ini tidak pasti."
Ini adalah sesuatu yang orang tidak sering renungi; bahwa "ini tidak pasti". Hanya inilah faktor kunci yang akan memunculkan kebijaksanaan. Demi mengakhiri kedatangan dan kepergian kita, serta menemukan kedamaian, kita hanya perlu mengatakan "ini tidak pasti". Kadang kita mungkin terganggu oleh sesuatu hal, sampai-sampai air mata bercucuran, itu sesautu yang tidak pasti. Ketika suasana hati nafsu akan kebencian datang pada kita, kita cukup mengingatkan kita akan satu hal ini. Entah kita berdiri, berjalan, duduk atau berbaring apa pun yanag muncul adalah tidak pasti. Tidak bisakah Anda melakukan ini? Tetaplah begini entah apapun yang terjadi, Cobalah. Anda tidak memerlukan banyak--cuma ini saja akan manjur. Ini adalah sesuatu yang membawa kebijaksanaan.
Cara saya berlatih meditasi tidak begitu rumit--hanya inilah yang segalanya akan berpokok "Itu tidak pasti". Semuanya bertemu dititik ini.
Anda tidak perlu menelusur semua ragam pengalaman batin. Ketika Anda duduk dalam meditasi, mungkin ada berbagai keadaan batin yang muncul, melihat, dan mengetahui segala macam hal, mengalami keadaan yang berbeda-beda. Jangan ikuti mereka, dan jangan terperangkap di dalam mereka. Anda hanya perlu mengingatkan diri sendiri bahwa mereka tidak pasti. Itu saja cukup. Itu sederhanan, dan itu mudah untuk dilakukan. Kemudian Anda bisa berhenti. Pengetahuan akan datang, namun pada saat itu jangan terlalu menganggap penting pengetahuan itu atau melekat kepadanya.
Pemahaman akan hal-hal ini selalu tepat waktu dan relevan. Pada segala waktu, ketidaktetapanlah yan berkuasa. Anda seharusnya bermeditasi akan hal ini.
Kata-kata benar dan sejati para bijak tak akan kekurangan menyebut tentang ketidaktetapan, maka itu bukan ucapan orang bijak. Itu bukan ucapan orang-orang yang tercerahkan; itu disebut ucapan yang tidak menerima kenyataan keberadaan.
Sebagaimana saya lihat, begitu kita memiliki pengetahuan benar, batin akan dibawah kendali kita. Apa maksudnya kendali ini? Kendali ini ada di dalam anicca, mengetahui bahwa segala sesuatu tidak tetap. Segalanya berhenti disini ketika kita melihat dengan jernih, dan anicca menjadi sebab bagi kita untuk melepas. Kemudian kita biarkan segalanya terjadi, menurut sifat alami mereka. Jika tidak ada yang muncul, kita berdiam dalam ketenangseimbangan, dan jika sesuatu muncul, kita merenung; apakah ini menyebabkan kita menderita? Apakah kita berpegang kepadanya dengan kelekatan yang mencengkeram? Apakah ada sesuatu disana? Inilah yang menyokong dan mempertahankan latihan kita. Jika kita berlatih dan sampai ketitik ini, saya rasa setiap dari kita akan merealisasi kedamaian sejati. Jika kita mencapai tempat pengenalan kebenaran ini, kita akan menjadi orang yang tidak ruwet, tidak menuntut, puas dengan apa yang kita miliki, mudah bagi orang lain untuk bicara kepada kita, dan tidak angkuh dalam perilaku kita. Tanpa kesukaran atau masalah, kita akan hidup dengan nyaman. Orang yang bermeditasi dan merealisasi batin yang hening akan menjadi seperti ini.
Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha (18.04.2016)
Namo Buddhaya
"Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha"
Y. A. Shravasti Dhammika
18 April
Ada lima cara untuk mengatasi kebencian yang harus dilenyapkan bila muncul. Apa sajakah kelima cara tersebut ?
Pertama, pada siapa pun kebencian muncul, padanya cinta kasih harus dikembangkan
Kedua, pada siapa pun kebencian muncul, padanya welas asih harus dikembangkan.
Ketiga, pada siapa pun kebencian muncul, padanya keseimbangan batin harus dikembangkan
Dan keempat, pada siapa pun kebencian muncul, ia harus melupakannya, tidak memperhatikannya.
Terakhir pada siapa pun kebencian muncul, fakta bahwa kebencian itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri harus ditanamkan padanya dan ia seharusnya berpikir, " ini adalah akibat perbuatanku sendiri, akibat dari tindakanku, perbuatan adalah penyebab, penghubung, dan landasan timbulnya kebencian itu. Dan perbuatan apa pun yang seseorang lakukan, baik ataupun buruk, ia akan menerima balasannya."
Inilah lima cara untuk mengatasi kebencian
BUDDHA VACANA
(Sabda-sabda Sang Buddha)
Penerbit Karaniya
Renungan Malam (17.04.2016)
Namo Buddhaya
Renungan malam
Ada sebuah nilai yang membuat Anda bisa saling berbagi dengan sesama manusia.
Anda bisa berbagi karena Anda adalah manusia dan berada di dalam komunitas manusia.
Anda berbagi ikatan ini, dan ikatan ini sudah cukup untuk menumbuhkan nilai-nilai dan kepercayaan diri. Ikatan tersebut bisa menjadi sumber ketenangan ketika Anda kehilangan sesuatu.
-- Dalai Lama XIV --
Esensi Kebahagiaan
Dian Dharma
Renungan (17.04.2016)
Namo Buddhaya
Renungan malam
Ada sebuah nilai yang membuat Anda bisa saling berbagi dengan sesama manusia.
Anda bisa berbagi karena Anda adalah manusia dan berada di dalam komunitas manusia.
Anda berbagi ikatan ini, dan ikatan ini sudah cukup untuk menumbuhkan nilai-nilai dan kepercayaan diri. Ikatan tersebut bisa menjadi sumber ketenangan ketika Anda kehilangan sesuatu.
-- Dalai Lama XIV --
Esensi Kebahagiaan
Dian Dharma
Apa yang Anda maksud dengan "sakit mental"
Namo Buddhaya
Apa yang Anda maksud dengan "sakit mental"
Yang saya maksudkan dengan sakit mental adalah jenis batin yang tidak melihat kenyataan; batin yang cenderung terlalu melebih-lebihkan atau memandang rendah kualitas seseorang atau obyek yang dicerapnya, yang selalu menyebabkan masalah-masalah muncul.
Di dunia Barat, tentu saja kamu tidak menyebutnya sebagai sakit mental, karena interpretasi psikologi Barat terlalu sempit.
Jika seseorang sudah jelas terganggu secara emosional, kamu menganggapnya sebagai suatu masalah, tetapi jika seseorang memiliki ketidakmampuan yang sangat mendasar untuk melihat kenyataan dan mengerti sifat sesungguhnya dirinya sendiri, kamu tidak menganggapnya sebagai suatu masalah.
Padahal tidak mengetahui sikap dasar mentalmu sendiri adalah suatu masalah besar.
Masalah-masalah manusia bukan hanya sekedar penderitaan emosional atau hubungan yang tidak mulus. Sebenarnya, itu hanyalah masalah-masalah kecil. Seolah-olah seperti ada masalah yang seluas samudra, tetapi yang kita lihat hanyalah ombak-ombak kecil di permukaan. Kita memfokuskan pada hal tersebut - Oh ya, itu suatu masalah besar - sementara mengabaikan penyebab yang sebenarnya, yaitu ketidakpuasan batin.
Sulit untuk menyadarinya, orang sakit mental adalah mereka yang tidak menyadari ketidakpuasan batin yang muncul dalam dirinya.
Orang demikianlah yang sesungguhnya menderita sakit mental; batin mereka tidak sehat."
Yang Mulia Lama Thubten Yeshe
Jadikan Batinmu Seluas Samudra
Penerbit PVVD Bandung
Terlahir di Alam Manakah Guan Yu
Namo Buddhaya, selamat petang
Terlahir Dialam Manakah Guan Yu?
Guan Yu, meskipun memiliki sifat-sifat luhur dan berkebajikan, namun karena sema sahidupnya banyak melakukan pembunuhan,maka setelah meninggal beliau terlahir dialam hantu. Seperti dikatakan oleh Master Ch’an Hsuan Hua, murid Mahaguru Xu Yun(Awan Kosong), dalam komentarnya pada Shurangama Sutra:
“Beberapa makhluk halus memiliki hati yang baik dan bertindak sebagai para Pelindung Dharma. Guan Di Gong adalah salah satu contohnya. Ia adalah makhluk halus yang kuat dan agung. Jenis makhluk halus ini melindungi dan menyokong Triratna. Mereka dapat menggunakan spiritual mereka untuk menuju ke kekosongan.”
Terlahir dialam manakah Guan Yu?
“Ada puluhan ribu jenis makhluk halus. Guan Di Gong di Tiongkok adalah salah satu contoh dari seorang makhluk halus yang kaya raya. Namun setelah ia berlindung di dalam Buddha, maka ia dikenal sebagai Bodhisattva Sangharama,seorang Pelindung Dharma.”Jadi ketika Guan Yu meninggal, Beliau terlahir kembali di alam preta, di mana dikisahkan bahwa Beliau mencari-cari kepalanya yang hilang. Setelah bertemu dengan Sang Bhiksu, Beliau tersadar akan kesalahan-kesalahannya, menjadi Pelindung Dharma dan mendapat Trisarana. Beliau menjadi tercerahkan dan banyak berbuat bajik sehingga terlahir kembali di alam Deva, sebagai Pelindung Dharma juga.Mengenai perang, ada satu kisah dalam kitab suci Tipitaka. Suatu hari, Sinha,seorang tentara, mengunjungi Guru Buddha dan mengatakan, “O Bhagava,saya adalah seorang tentara yang ditunjuk oleh raja untuk menegakkan hukum dan berperang. Guru Buddha mengajarkan cinta kasih yang universal, kebaikan, dan kasih sayang untuk makhluk yang menderita. Apakah Buddha mengizinkan pemberian hukuman untuk para penjahat? Dan juga, apakah Buddha menyatakan bahwa berperang demi melindungi rumah, istri, anak-anak, dan harta kita adalah salah? Apakah Buddha mengajarkan agar kita menyerahkan diri sepenuhnya? Apakah saya harus menderita dengan melakukan apa yang disenangi oleh para pelaku kejahatan dan memberikan secara patuh kepadanya yang mengancam akan mengambil secara paksa apa yang menjadi milik saya? Apakah Buddha menetapkan bahwa semua perselisihan termasuk berperang demi alasan-alasan yang pantas seharusnya dilarang?”Buddha menjawab, “Mereka yang pantas dihukum harus dihukum. Dan mereka yang pantas ditolong wajib ditolong. Tidak melukai makhluk hidup apapun, tetapi harus adil, penuh dengan cinta dan kebaikan.”
Keputusan ini tidaklah bertentangan karena orang yang dihukum atas kejahatannya akan menderita atas lukanya bukan karena niat jahat sang hakim namun dikarenakan oleh tindakan jahatnya itu sendiri. Tindakan jahat itu sendiri yang telah mengakibatkan luka yang diberikan oleh sang penegak hukum. Jika seorang hakim memberikan hukuman, dia seharusnya tidak menyimpan rasa benci di hatinya. Jika seorang pembunuh dieksekusi mati, dia seharusnya menyadari bahwa hukumannya itu adalah akibat perbuatannya sendiri. Dengan pemahaman ini, dia tidak perlu lagi meratapi nasibnya tetapi dapat menenangkan pikirannya.
Guru Buddha melanjutkan, “Buddha mengajarkan bahwa segala perang di mana terjadi pembantaian terhadap saudara-saudara sendiri adalah sangat disayangkan sekali.
Akan tetapi, Buddha tidak mengajarkan bahwa mereka yang terlibat perang untuk memelihara perdamaian dan ketentraman,
setelah menggunakan berbagai cara untuk menghindari konflik,
adalah pantas disalahkan.”
“Perjuangan tetap harus ada, karena pada hakikatnya hidup adalah perjuangan. Tetapi pastikan bahwa engkau tidak berjuang demi kepentingan pribadi hingga menentang kebenaran dan keadilan. Seseorang yang berjuang demi kepentingan pribadi untuk membesarkan dirinya sendiri atau memiliki kekuasaan atau kaya atau terkenal, tidak akan mendapatkan penghargaan. Tetapi, dia yang berjuang demi perdamaian dan kebenaran akan memperoleh penghargaan besar; bahkan kekalahannya akan dianggap sebagai kemenangan.” “Kemudian Sinha, jika seseorang pergi berperang bahkan untuka lasan yang pantas, dia harus siap-siap untuk dibunuh musuhnya karena kematian adalah bagian dari resiko seorang prajurit. Dan jika karmanya itu mengikutinya, dia tidak memiliki alasan apapun untuk mengeluh. Tetapi jika dia yang menang, keberhasilannya akan dianggap besar, tetapi tidak peduli sebesar apapun itu, roda kehidupan akan berputar kembali dan membawa hidupnya hancur lebur sepertidebu.
Akan tetapi, apabila dia mampu berkompromi dengan dirinya sendiri dan melenyapkan semua kebencian di hatinya, danjika dia dapat mengangkat musuhnya yang tertindas dan men-gatakan pada mereka, ‘Marilah berdamai dan biarlah kita menjadi saudara,’ maka dia akan memperoleh kemenangan yang bukan keberhasilan sementara; dikarenakan buah kemenangan ini akan bertahan selamanya.”“Seorang jenderal yang berhasil adalah seorang pemenang,Sinha, tetapi dia yang menaklukkan diri sendiri adalah pemenang sejati.
Ajaran penaklukan diri sendiri ini, Sinha, tidaklah diajarkan untuk menghancurkan kehidupan orang lain, tetapi untuk melindungi mereka. Seseorang yang telah menaklukkan dirinya sendiri akan lebih siap menghadapi hidup, mengukir keberhasilan, dan meraih kemenangan daripada seseorang yang diperbudak diri sendiri. Seseorang yang pikirannya terbebas dari ilusi keakuan, akan lebih mampu bertahan dan tidak terjatuh dalam pertempuran hidup. Dia,yang tujuannya penuh kebenaran dan keadilan, tidak akan menemui kegagalan. Dia akan berhasil dalam usahanya dan keberhasilannya akan bertahan. Dia yang memiliki cinta akan kebenaran dalam hatinya akan hidup terus dan tidak akan menderita. Jadi, berjuanglah dengan berani dan bijaksana. Kemudian, engkau akan menjadi prajurit pembela kebenaran.”Tidak ada keadilan dalam peperangan atau kekerasan. Ketika kita yang menyatakan perang, kita membenarkannya; namun ketika pihak lain menyatakan perang, kita menganggap itu tidak adil. Selanjutnya, siapa sebenarnya yang dapat membenarkan perang? Orang seharus nya tidak mengikuti hukum rimba untuk mengatasi masalah manusia. Namun ada kalanya perang terpaksa dilakukan untuk membela negara dan melindungi masyarakat.
Maka dari itu dalam Arya-Bodhisattva-gocara-upavisaya-vikurvana-nirdesa Sutra dikatakan:
“Seorang raja, yang benar-benar siap untuk berperang, setelah meng-gunakan tindakan yang terampil ini, meskipun ia membunuh ataupun melukai prajurit lawan, tindakannya itu hanya menimbulkan ketidak-bajikan kecil... Mengapa bisa seperti itu? Ini disebabkan karena tindakan tersebut disertai oleh motivasi welas asih dan melindungi. Dengan basis mengorbankan dirinya dan kekayaannya untuk melindungi para makhluk hidup dan demi keluarganya, istri dan anak-anaknya,maka kebajikan yang tidak terbatas akan muncul, bahkan meningkat tajam.”
Dari kutipan-kutipan sabda Sang Buddha di atas, dapat disimpulkan bahwa Guan Gong pergi berperang tidak bisa dijadikan alasan untuk menilai bahwa beliau bukan seorang Bodhisattva. Guan Yu pergi berperang dengan tujuan dan motivasi yang mulia, maka dari itu beliau memperoleh buah karma kebajikan sehingga dapat berjodoh dengan Buddha Dharma, menjadi pelindung Dharma dan nama-Nya dikenal dan dihormati berjuta-juta orang di seantero negeri selama berabad-abad lamanya. Walaupun sebelumnya beliau terlahir di alam preta karena bagaimanapun juga karma buruk membunuh itu tetap ada,tetapi kebajikan yang ditanamnya jauh lebih besar sehingga beliau mampu membangkitkan batin Bodhi dan menjadi Dewa Pelindung Dharma. Namun di atas semua itu, ajaran Buddha tidaklah pernah membenarkan perang dalam bentuk apapun juga dan seperti yang beliau ajarkan kepada Sinha, bahwa perdamaian adalah kemenangan yang sejati.
Perbuatan Baik
Selamat siang, Namo Buddhaya
PERBUATAN BAIK
Sumber Tulisan: Teddy Teguh Raharja
“Ada tiga macam perbuatan baik, apakah itu ? Menyumbang, menjaga moralitas dan membina pikiran.”
(Punnakiriyavatthu Sutta, Itivuttaka)
Berbuat baik adalah satu-satunya cara untuk meraih kebahagiaan dan menghindari bahaya.
Kita bisa memperoleh, cepat atau lambat, banyak hal yang kita inginkan.
“Janganlah ragu berbuat baik, karena Saya mengetahui dengan pasti, bahwa perbuatan baik menyebabkan pelakunya mendapatkan kebahagiaan.”
(Metta Sutta, Itivuttaka)
Perbuatan Baik I (Menyumbang)
Ada orang yang hanya mau menyumbang kalau sudah kaya, karena kalau belum kaya, malah bisa membahayakan dirinya sendiri. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Setidaknya
menurut dua dewa berikut :
“Ketika sebuah rumah terbakar
Pemiliknya berusaha masuk untuk menyelamatkan hartanya supaya tidak ikut musnah
"Demikianlah ketika kehidupan terbakar oleh usia tua dan kematian
Orang berusaha menyelamatkan hartanya dengan cara disumbangkan.”
(Suatu dewa mengemukakan pendapatnya pada Buddha Gotama, Devatasamyutta, 41 (1), 136 – 137, Samyutta Nikaya)
Dewa lain juga mengemukakan pendapatnya tentang masalah yang serupa kepada Buddha.
“.......Kelaparan dan kehausan yang ditakutkan oleh orang kikir, yang menjadi sebab ia tidak mau menyumbang, justru akan benar-benar menimpa orang itu.”
( Devatasamyutta, 32 (2), 86, Samyutta Nikaya)
Logikanya begini, kemudahan dan fasilitas yang kita nikmati sekarang, sebagian adalah hasil sumbangan kita di masa lalu (bahkan dari kehidupan sebelumnya). Kalau sumbangan kita di
kehidupan yang sekarang jumlahnya sedikit atau bahkan nihil. Di kehidupan mendatang pasti sengsara.
Tapi kalau kita miskin, bahkan kalau untuk makan saja pas-pas-an, harus bagaimana ?
“Seandainya orang lain tahu, seperti yang Saya ketahui, manfaat dari menyumbang. Maka mereka tidak akan bersikap kikir. Bahkan seandainya makanan yang dimiliki cuma tinggal 1 porsi, mereka tidak akan makan tanpa membaginya, jika didekatnya ada mahluk lain yang juga membutuhkannya.”
(Dana Sutta, Ekanipata, Itivuttaka)
Sumbangan tidak harus dalam bentuk materi,
“Ada dua macam sumbangan, sumbangan dalam bentuk materi, dan sumbangan dalm bentuk ilmu pengetahuan.”
(Dana Sutta, Tikanipata, Itivuttaka)
“Sumbangan yang paling berharga adalah yang berupa ilmu pengetahuan spiritual.”
(Brahmanadhammayaga Sutta, Itivuttaka)
Perbuatan Baik II (Menjaga Moralitas)
“Jika ada orang yang berkeinginan memperoleh nama baik, menjadi orang kaya dan setelah meninggal masuk surga, maka orang itu harus menjaga moralitasnya.”
(Sukhapatthana Sutta, Itivuttaka)
“Bagaimana cara menjaga moralitas ? Anda bisa berpedoman seperti ini : Inilah saya, waras, mau bahagia, tidak mau menderita. Saya tidak mau disakiti orang lain. Orang lain juga
tidak mau disakiti saya. Karena apa yang tidak saya sukai, orang lain juga pasti tidak suka.
Dengan berpikir seperti ini, mungkinkah saya menyakiti orang lain ? ”
(Sotapattisamyutta, Samyutta Nikayaa)
Memang tidak ada orang waras yang menyakiti orang lain lebih dulu. Orang selalu punya alasan untuk menyerang. Masalahnya apakah serangan itu dikarenakan benci mau balas dendam,
atau sekedar untuk bersenang-senang mengisi waktu luang, selalu ada akibat karma yang muncul bagi si pelaku.
Mari kita pelajari kasus berikut. Di zaman Buddha Gotama, ada bhikku yang bernama Cakkupala. Bhikku ini mencapai tingkat kesucian tertinggi, tapi pada saat yang bersamaan menjadi
buta. Berikut penjelasan dari Buddha :
“Di kehidupan sebelumnya, bhikku Cakkupala adalah seorang dokter mata. Suatu hari ada wanita yang datang mau berobat tapi tidak punya uang. Wanita itu berjanji bahwa ia dan anaknya akan bekerja menjadi pembantu bagi dokter yang akan menolongnya, asalkan sakit matanya bisa disembuhkan.
Setelah sepakat, si dokter pun mengobati matanya sampai sembuh. Akan tetapi, bukannya berterima kasih dan menepati janjinya, wanita itu malah berusaha mengelak dengan
mengatakan bahwa sakit matanya bertambah parah. Tahu dibohongi, dokter ini lalu balas membutakan kedua mata pasien yang tidak mau bayar itu. Itulah sebabnya, mengapa di kehidupan sekarang, bhikku Cakkupala (si dokter di kehidupan
lampau) menjadi buta.”
(Yamaka Vagga I, Dhammapada)
Jelas, balas dendam malah memperpanjang penderitaan. Yakinilah hukum karma, penderitaan anda disebabkan oleh kesalahan anda sendiri, dan orang yang membuat anda menderita akan menerima balasannya kelak. Tetaplah pertahankan moralitas.
Perbuatan Baik III (Membina Pikiran)
“ Hal yang paling bermanfaat adalah pikiran yang terkendali.”
(Anguttara Nikaya 1 - 4)
“Setelah tujuh tahun memancarkan pikiran cinta kasih kepada semua mahluk, setelah meninggal Saya muncul di alam Brahma (alam Dewa tingkat tinggi), berkali-kali Saya muncul disana. Puluhan kali Saya menjadi raja para dewa. Ratusan kali Saya menjadi Maharajadunia.”
(Metta Sutta, Itivuttaka)
Melatih pikiran bisa jadi pilihan tepat bagi mereka yang berdalih tidak punya uang untuk disumbangkan.
“Andaikan ada orang yang meyumbangkan sejumlah besar uang pada pagi, siang dan malam hari, atau sebagai gantinya orang itu memancarkan pikiran cinta kasih kepada semua mahluk
pada pagi, siang dan malam hari, maka tindakan ini lebih bermanfaat dibandingkan menyumbangkan uang.”
(Samyutta Nikaya II 264)
Cinta kasih (universal) merupakan salah satu dari sekian banyak aspek pembinaan pikiran.
Daya upaya / olah pikiran benar
Meditasi Perhatian benar
Konsentrasi benar
Pembinaan Pikiran
Pemahaman benar
Kebijaksanaan Tanpa nafsu
Pikiran benar CINTA KASIH
Welas asih
Kita belum membahas semuanya, dimulai dari yang paling gampang dulu (tapi bisa jadi yang paling sulit), cinta kasih bisa menghasilkan manfaat yang luar biasa.
“Perbuatan baik yang paling tinggi dan paling bermanfaat adalah pikiran mengasihi semua mahluk. Perbuatan ini jauh mengungguli perbuatan baik yang manapun juga.”
(Metta Sutta, Itivuttaka)
“Ada 11 manfaat dari pikiran yang penuh cinta kasih :
(1) dapat tidur dengan mudah dan nyenyak
(2) bangun tidur dalam kondisi segar
(3) tidak bermimpi buruk
(4) disukai banyak orang
(5) disukai mahluk bukan manusia
(6) dilindungi mahluk halus
(7) tidak bisa terluka oleh apapun juga
(8) mudah mengendalikan pikiran
(9) kulitnya menjadi cerah dan indah
(10) meninggal dengan bahagia
(11) kalau cinta kasihnya sempurna, ia akan mencapai kesucian, bila tidak, ia akan masuk
surga tingkat tinggi.
(Anguttara Nikaya XI, 16)