Posted by : Unknown Monday, April 11, 2016

Namo Buddhaya, selamat siang teman teman sedhamma

Inspirasi Buddha
Luang Poh Chah

Ada gelap dan ada terang, ada panas dan ada dingin, ada kelahiran pastinya ada kematian, dan pasti ada keadaan diluar kelahiran dan kematian: Buddha, sebelum pencerahan-Nya, merenung dan menyimpulkan dengan cara ini. Tidak berusaha mengetahui banyak hal, Beliau hanya menimbang sebanyak ini saja, Ia berlatih menurut pandangan ini, dengan antusiasme nyata. Ia tidak mengambil jalan pintas.

Buddha berlatih dengan penuh tekad, tanpa mundur, karena Ia memiliki kepastian dalam batin-Nya, bahwa karena ada kegelapan, maka pasti ada pencerahan. Ketika ada kenikmatan dan kebahagiaan, maka pasti ada rasa sakit dan derita. Ada panas, maka pasti ada kesejukkan untuk melegakannya. Ada kelahiran, dan yakin pasti ada tanpa-kelahiran untuk menangkalnya. Ia yakin mengenai ini. Tak seorang pun yang memberitahukan-Nya mengenai hal ini; ini adalah keadaan batin dan temperamen-Nya yang terjadi karena kondisi silam dari penyempurnaan spritual-Nya.

Jadi setelah mendapatkan pandangan mengenai hal-hal ini, Ia meninggalkan istana untuk berlatih selama enam tahun. Ia tidak gentar dan tidak mengendurkan uasaha-Nya, tidak menggubris kelelahan dan kesukaraan. Ia ingin menyelidiki kembali hingga ke sumbernya: "Dari mana segala sesuatu itu muncul? Dari manakah duka itu lahir?" Beliau terus menyelidiki dengan kesinambungan, hingga Beliau menyadari bahwa duka datang sumbernya dari kelahiran. Kita dapat menderita karena kita terlahir.

Dari manakah kelahiran itu muncul? Kelahiran muncul dari kelekatan. Ia hanya menujukan perhatian-Nya pada hal ini, kelekatan yang mencengkeram. Kelahiran, penuaan, penyakit, kematian, penderitaan, kesedihan, keputusasaan, kedukaan, dan ratapan muncul dari kelahiran karena kelekatan. Inilah siklusnya.

Ada kelahiran, dan kelahiran adalah musabab bagi berbagai duka yang akan muncul. Jadi, jika ada kelahiran, apakah ada tempat tanpa-kelahiran? Ia merenungi hal ini lebih lanjut, dan menyimpulkan bahwa semestinya sungguh ada: ada panas dan ada dingin; ada suka, dan ada duka; jadi karena ada suka dan duka, maka mesti ada tempat di luar suka maupun duka,. Ada alam kelahiran dan kematian, maka tak diragukan lagi ada alam tanpa-kelahiran dan tanpa-kematian. Beliau menjadi mantap akan hal ini dan bertekad untuk merealisasinya. Akhirnya Buddha merealisasi bahwa mengetahui ada duka, mengetahui sebab duka, mengetahui akhir duka dan mengetahui jalan menuju akhir duka, adalah jalan dimana mahluk tercerahkan, para ariya. Tidaklah perlu mengetahui banyak hal; hanya inilah yang perlu diketahui. Inilah jalannya, jalan untuk kita semua ikuti. Seorang prktisi tidak perlu mencari pengetahuan lain.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blog Archive

Powered by Blogger.

- Copyright © Dhamma Cittapali -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -