- Back to Home »
- 2016-04 April 2016 , Personal Notes »
- Rangkuman Singkat Dhamma Ajahn Chah
Namo Buddhaya, selamat siang.
Rangkuman singkat Dhamma Ajahn Chah.
Pada tahun 1954, Ajahn Chah dan beberapa muridnya mendirikan sebuah vihara di hutan terpencil di Thailand timur laut. Menjalani cara hidup sederhana bhikkhu petapa hutan, sama seperti yang Buddha jalani sekitar 2.500 tahun sebelumnya, kehadiran Ajahn Chah yang penuh welas asih serta mengajarnya yang langsung dan mudah dipahami menarik ribuan pengikut awam maupun monastik, dan vihara-vihara pun bermunculan bak jamur di seluruh Thailand dan di Barat. Menunjukkan kepada kita betapa langsungnya Dhamma, Ajahn Chah menyibak kemisteriusan konsep-konsep Buddhisme sehingga hampir semua orang yang mendengar dapat memahami maknanya. Ia mengajari penduduk desa bagaimana menata kehidupan keluarga dan keuangan mereka, akan tetapi ia juga sewaktu-waktu mengajari penduduk mengenai praktik Dhamma untuk merealisasi Nibbana. Ia bisa mengajari rombongan orang yang bertemu dengannya untuk pertama kalinya mengenai dasar-dasar moralitas, tanpa menggurui dan dengan cara yang membangkitkan semangat, sembari dengan lembut mengingatkan mereka akan moralitas mereka dan menembusi hati merekaa dengan kebahagiaannya menular. Atau, ia abisa menegur di siang bolong para abhikkhu dan umat awam setempat. Ia bisa memulai suatu pembabaran dengan menjelaskan gagasan Buddhis yang paling mendasar dan agaknya tanpa mengubah nada suaranya melanjutkan bicara mengenai kesunyataan.
Ajahn Chah bukanlah penganut kaku konsistensi dalam penggunaan istilah. Ia tidak bicara dari catatan dan tidak pernah merencanakan isi ceramahnya. Namun ia membuat ajaran-ajarannya praktis dan mudah dipahami. Kepada yang tak terpelajar, ia akan mengatakan, "Jangan pusing memikirkan mengenai gugus-gugus, mengenai bentuk, perasaan, pencerapan, bentukan pikiran, dan kesadaran. Banyak amat sih Bilang saja, 'badan dan batin'. Itu cukup. "Meskipun ia sering kali tidak mengutip naskah suci, jika diperlukan ia mampu menjelaskan istilah-istilah yang sukar dipahami. "Pembabaran Mengenai Pembangkitan Penyadaran Murni", misalnya, membicarakan tentang "melihat badan dalam badan", dan demikian pula dengan gugus-gugus lainnya. Ajahn Chah sekadar mengatakan, "Ketika kita mengenali badan sebagai tidak tetap, tidak memuaskan, dan bukan milik kita, itulah yang disebut 'melhat badan dalam badan'".
Kadang ia menekankan tiga ciri meditasi pandangan cerah--ketidaktetapan, duka, dan ketiadadirian, kadang Empat Kebenaran Mulia, namun semua ini adalah sarana yang menjukkan ke sesuatu yang diluar itu. Ketika Buddha pertama kali mulai mengajar, Ia berkata, "Terbukalah gerbang menuju tanpa--kematian. Bagi yang punya telinga untuk mendengar, lepaskanlah keyakinan kalian." Ajahn Chah menjelaskan konsep "tidak-mati" yang agak misterius ini dengan cara praktis dalam kaitannya dengan anatta, tiada-diri: Ketika tidak ada 'aku' dan tidak ada 'milikku', maka tidak ada siapa pun yang mati. Gugus-gugus keberadaan muncul dan berlalu, namun dengan tidak menempatkan kita pada gugus-gugus tersebut atau mempercayai mereka sebagai kita atau milik kita, maka kita tidak akan mati bersama mereka, sehingga tidak akan menderita karena mereka. Ia juga menjelaskannya sebagai tidak lagi lahir dan mati beserta kebahagiaan eksternal dan internal yang kita alami--dengan kata lain, keterbebasan.
Namun lebih dari segalanya, Ajahn Chah mendasarkan ajarannya pada anicca, ketidaktetapan, sebagai fokus awal praktik penyadaran murni. Anicca adalah kunci yang membuka pintu dan memberi jalan masuk ke dalam Dhamma, dan aanicca menuntun batin untuk melihat aspek-aspek pengalaman lainnya.
Selaras dengan semangat perubahan dan ketidakpastian, kejutan-kejutan selalu tersedia dalam cara Ajahn Chah mengajar dan melatih murid-muridnya. Ia sering mengubah rutinitas di viharanya. Ia tidak mudah untuk diterka atau digolongkan. Ia sering menekankan kehidupan monastik sebagai jalan terbaik untuk praktik, menunjukkan rasa hormat sejati kepada siapa pun yang punya minat tulus, siapa pun yang berjuang dalam praktik, serta mengatakan dalam banyak kesempatan bahwa ditahbis atau tidak ditahbis bukanlah intinya. Perlakuannya terhadap disiplin monastik bisa membingungkan. Namun menerapkan bimbingannya kedalam praktik bisa mebawa kita pada pengalaman langsung dan sebuah wilayah kepastian.
Kadang ia bicara akan perlunya samadhi, kestabilan meditatif, dan menjelaskan perkembangannya melalui tahapan-tahapan penyerapan batin (jhana). Pada saat-saat lainnya ia mengganggap keheningan tidak terlalu penting dan memperingatkan bahaya-bahayanya yang bisa melencengkan jalan. Dalam pengajaran meditasinya, kesadaran adalah yang utama. Entah batin hening atau bergolak, terpusat atau terberai, pemeditasi bisa menyadari kondisi-kondisi nya dan mengenali sifat muncul dan lenyapnya mereka, dan melalui itu pemeditasi jadi menyadari sesuatu di luar aktivitas batin.
Anicca, Dukkha, Anatta
-----------------------------------
Ketika Buddha mengajarkan pembabaran kedua-Nya, "Pembabaran Mengenai Ciri Tiada-Diri", Ia membawa lima murid-Nya menuju pencerahan penuh dengan menjelaskan pemajuan pandangan cerah melalui tiga ciri keberadaan, yakni anicca, dukkha, dan anatta. Ajaran ini didasarkan untuk menunjukkan hal yang kasat, bahwa segala sesuatu dalam badan dan batin tidaklah tetap. Apa yang tidak tetap dengan sendirinya tidak memuaskan, dan yang tidak stabil dan tidak memuaskan tidaklah layak dianggap sebgai kita atau milik kita. Melalui tanya dan jawab, Buddha membawa murid-murid-Nya pada pemahaman ini, dan Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa melihat segalanya sengan cara ini akan memunculkan ketidak-nafsuan dan ketidak-lekatan, membebaskan batin.
Pendekatan menuju pemahaman ini, yang dimulai dengan ketidak-andalan segala yang kita alami, adalah penekanan utama ajaran dan latihan Ajahn Chah. Dengan ketak-tergoyahkan seorang master pertempuran Dhamma, ia memotong habis keruwetan dan kelekatan para murid, baik sehubungan dengan dunia luar, tubuh mereka sendiri, atau tahap-tahap meditasi, dengan mengingatkan mereka, "Itu tidak tetap. Itu tidak pasti." Meski seorang anak kecil bisa mengucapkan kata-kata itu, namun ketika diucapkan dari sebuah tempat yang penuh keyakinan, kata-kata tersebut menjadi indikator jernih kebenaran dan jalan pembebasan.
Ketidaktetapan (anicca) biasanya ditunjukkan sebagai yang pertama dari tiga ciri karena ini adalah yang paling kasat, dan fakta inilah yang membuat Ajahn Chah terus menerus kembali padanya sebagai landasan pandangan yang tepat dan pintu masuk jalan praktik. Ia juga menyebutnya sebagai ketidak pastian, menunjukkan sifat keberadaan ini sembari mengingatkan orang untuk tidak menganggap segala sesuatu terlalu serius: naik dan turun, perolehan dan kehilangan tidaklah terelakkan, dan persepsi kita sendiri mengenai apa yang baik dan apa yang buruk bisa berubah, sehingga pemahaman seperti ini dapat membawa kepada ketenangan , keseimbangan dalam aral kehidupan sehari-hari maupun dalam meditasi. Ketika semuanya tidak stabil dan tidak bisa menjadi andalan, bagaimana mungkin semuanya ini dianggap nyata? Membiarkan kita di bawah kendali fenomena yang selalu berubah dan bergantung pada fenomena-fenomena itu untuk kebahagiaan adalah resep pasti untuk musibah.
Dukkha biasanya diterjemahkan sebagai "penderitaan". Pengalaman tidak meyenangkan seperti kehilangan dan perpisahan dari yang dicintai, berhubungan dengan yang tidak menyenangkan, kesedihan, penyakit, dan kematian adalah wujud dukkha yang kasat. Dukkha juga disebut sebagai ketidak-puasan yang ada di dalam dan di mana saja dari semua yang biasa kita alami; lebih spesifiknya, dukkha merujuk pada pengalaman yang didasarkan pada khayalan yang memercayai segala sesuatu sebagai nyata, tetap, dan menjadi milik, menyusun, atau entah bagaimana terkait dengan suatu diri. Menurut ajaran Buddha, masalah sebenarnya tidak terletak pada kejadian-kejadian yang alami dan tidak terhindarkan, atau pun dalam kehilangan setelah perolehan, ataupun perpisahan setelah pertemuan, namun dalam aktifitas batin yang dibangun diatasnya. Aktivitas batin demikian menambah maikin banyak duka, dan itu tak terhindarkan Melalui perenungan dan penembusan langsung dalam meditasi, kita bisa melihat bagaimana berpegang terus pada obyek atau pengalaman apa pun menyebabkan ketegangan, frustasi, dana putus asa, karena tak ada apa pun yang bisa bertahan selamanya.
Ajahn Chah juga mengajarkan mengenai dukkha dalam kerangka Empat Kebenaran Mulia: duka, musababnya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya. "Ketika Anda ingin memasuki rumah, Anda harus memasuki melalui pintunya. Ketika Anda ingin memasuki Dhamma, Anda masuk melalui pengenalan fakta akan dukkha,' ujarnya. Ajarannya mungkin kadang tampak berat dengan penyebutan kata dukkha, namun ia mengajarkan mengenai empat kebenaran, bukan satu. Ia mengingatkan kita bahwa ada sebuah tujuan, dan karena itu bisa ada akhir duka sekali dan selamanya, serta hidup dalam keterbebasan dan kebahagiaan sungguh mungkin bagi semua yang menerapkan ajaran ini. Ajarannya adalah penyadaran akan sifat keberadaan yang tak memuaskan, dengan segala duka yang tertumpuk selagi kita mengarungi kehidupan, yang mendorong kita untuk mencari jalan menuju pembebasan. Penyadaran ini membawa pada kejemuan terhadap cara kita hidup dan melihat segala sesuatu selama ini, serta membawa pada ketaknafsuan dan ketidak lekatan terhadap segala bujuk rayu kehidupan duniawi.
Ajahn Chah sering membicarakan mengenai anatta, tiada-diri, dalam istilah paling sederhana, dimulai dengan fakta polos mengenai badan jasmani kita. Badan dan jasmani kita tidak mematuhi perintah kita, dan pada akhirnya mereka meninggalkan kita. Kadang ia menekan bagaimana badan jasmani tunduk pada penuaan, penyakit, dan kematian, sementara kadang ia menyebutnya, badan jasmani semata-mata hanyalah kumpulan unsur tanah, air, dan udara, yang di dalamnya tidak ada sosok yang bisa ditemukan. Seperti yang dikatakan dalam naskah, hal yang tidak tetap dan tidak bisa diandalkan, sehingga bersifat tidak memuaskan, jelas tidak layak disebut sebagai diriku atau milikku.
Dalam mengajarkan meditasi, Ajahn Chah berulang kali menyebutkan tentang melihat muncul dan lenyapnya aktivitas batin, namun ia menambahkan bahwa ini bukanlah segalanya. Dalam buku being Dhamma ia mengatakan,;
"Pada awalnya kita harus melihat ketidaktetapan, duka, dan ketiadadirian sebagai sifat batin. Namun sesungguhnya tiada suatu apa pun disana. Batin itu kosong. Kita melihat pemunculan dan pelenyapan, namun sesungguhnya tiada yang muncul dan lenyap. KIta melihat muncul dan lenyap dengan mengandalkan pencerapan dan koseptualisasi.... Batin tidak hanya sekedar muncul dan lenyap. Hasilnya adalah pengenalan batin Anda yang sejati. Anda masih akan mengalami mengalami pemunculan dan pelenyapan, namun Anda tidak akan terseret pada kebahagiaan, saat itu duka tidak bisa mengikuti Anda."
Ajahn Chah memberi kita "kabar buruk" tentang lemahnya kehidupan duniawi pada umumnya dan menunjukkan pelepasan keduniawian sebagai kuncinya, namun satu-satunya sasaran Ajahn Chah adalah pembebasan sejati. Seperti melatih meditasi, apa pun yang kita lakukan seharusnya untuk tujuan mengembangkan kebijaksanaan. Mengembangkan kebijaksanaan adalah demi tujuan pembebasan, keterbatasan dari segala kondisi dan fenomena.
Dikutip dari buku Ajahn Chah: Ini pun Akan Berlalu.