Posted by : Unknown Saturday, April 9, 2016

Selamat siang teman-teman sedhamma, Namo Buddhaya.

MELIHAT SEGALA SESUATU SEBAGAIMANA ADANYA.
Oleh: Luang Poh Chah
Bagian 2

Para siswa Buddha tercerahkan pada kebenaran akan ketidaktetapan. Dari pencerahan terhadap ketidaktetapan, mereka mengalami pelepasan dan kejemuan akan segala hal yang fana, atau nibbida. Kejemuan ini bukanlah kebencian. Jika ada kebencian, itu bukanlah benar-benar kejemuan, dan itu tidak bisa menjadi jalan. Nibbida bukanlah apa yang kita pikirkan sebagai kejemuan-dunia dalam cara yang biasa. Sebagai contoh, ketika hidup bersama keluarga, ketika kita tidak cocok satu sama lain, kita mungkin mulai berpikir bahwa kita benar-benar menjadi kehilangan minat sesuai dengan yang disebutkan dalam ajaran. Tapi bukan begitu; itu hanyalah kekotoran batin kita yang menindas hati kita. “Aku benar-benar jenuh-aku akan pergi meninggalkan semuanya” Ini kejemuan karena kotoran batin, dan apa yang sesungguhnya terjadi adalah kotoran batin Anda menjadi lebih besar sebelum Anda punya gagasan kejemuan akan hal-hal yang tidak Anda senangi ini.

Ini seperti gagasan mengenai kita memiliki metta, cinta kasih. Kita berpikir bahwa kita seharusnya memiliki cinta kasih terhadap orang-orang dan semua mahluk. Jadi kita mengatakan kepada diri kita sendiri, “Aku seharusnya memiliki welas asih. Sungguh, semua mahluk bisa dikasihi.” Anda mulai memiliki rasa sayang terhadap mereka, dan itu berakhir dengan nafsu dan kelekatan. Ini bukanlah metta dalam jalan Dhamma. Ini adalah metta yang dicampur dengan kepentingan diri. Kita menginginkan sesuatu dari orang lain, dan kita menyebutnya metta. Ini mirip dengan “kejemuan-akan-dunia” kita yang biasa. “Oh, ya, aku benar-benar capek akan semuanya, aku keluar!” Itu hanya kekotoran batin besar. Itu bukan kejemuan-akan-dunia atau kepadaman nafsu; itu hanya memberikan nama yang sama satu dengan yang lainnya. Itu bukanlah jalan Buddha. Jika kejemuan itu sejati, maka ada penyerahan, tanpa kebencian dan perlawanan, tanpa bahaya apa pun terhadap siapa pun. Kita tidak mengeluh atau mencari-cari kesalahan-kita hanya melihat segala sesuatu sebagai kosong.

Itu berarti sampai ke titik dimana batin kosong. Batin kosong tidak mencengkeram kelekatan pada segala sesuatu. Ini tidak berati  bahwa tidak ada apa pun, tidak ada orang, ada obyek-obyek. Tapi dalam batin ada pencerapan akan semua itu sebagai kebenaran, sebagai sesuatu yang tidak pasti. Segala sesuatu terlihat sebagiaman mereka adanya, megikuti jalur alaminya sebagai sifat dasar muncul dan berlalu.

Misalnya, Anda mungkin punya sebuah vas, Anda merasa bahwa itu adalah sesuatu yang indah, namun sisi vas itu sendiri, vas itu eksis dengan cueknya. Vas itu tidak punya apa pun untuk dikatakannya;hanya Anda yang punya perasaan mengenainya, Anda yang hidup dan mati karenanya. Jika Anda tidak menyukainya atau membencinya, vas itu tidak akan terpengaruh. Itu urusan Anda. Vas itu tidak peduli, namun Anda memiliki perasaan suka dan tidak suka ini dan lalu Anda melekat pada perasaan itu. Kita menghakimi berbagai hal sebagai baik atau buruk. “Baik” ini mengusik hati kita. “Buruk” mengusik hati kita. Keduanya adalah kekotoran batin.

Kita tidak perlu melarikan diri ke tempat mana pun; kita hanya perlu melihat dan menyelidiki hal ini. Inilah jalannya batin itu. Ketika kita tidak menyukai sesuatu, obyek yang tidak disukai itu tidak terpengaruh; ia tetap sebagaimana adanya. Ketika kita menyukai sesuatu, sesuatu itu tidak terpengaruh oleh kesukaan kita, namun tetap sebagaimana adanya. Kita hanya membuat kita gila dan sinting sendiri, itu saja.

Anda pikir beberapa hal adalah baik, Anda melihat hal lain sebagia hebat, namun Anda memproyeksikan gagasan-gagasan ini dari Anda sendiri. Jika Anda sadar akan Anda sendiri, Anda akan menyadari bahwa semua hal ini adalah setara.

Perumpamaan  yang mudah adalah makanan. Kita merasa jenis makan ini atau itu enak. Ketika kita melihat hidangan dimeja, mereka tampak sangat menarik; ketika semuanya dimasukan bersama kedalam perut, ceritanya jadi lain. Namun kita melihat berbagai hidangan dan mengatakan, “Yang ini untuk ku. Yang ini milikmu. Yang ini buat dia. “Ketika kita telah makan, dan sisa makanan keluar dari ujung satunya, mungkin tak seorangpun yang akan bertengkar memperebutkannya dan berkata, “Ini punya ku, ini punyamu.” Bukankah begitu? Akankah Anda masih merasa posesif atau tamak terhadapnya?

Begini secara ringkas dan sedehananya. Jika Anda melihat dengan jernih dan memapankan batin Anda, semua hal akan setara nilainya bagi Anda. Ketika kita memiliki nafsu dan berpikir dalam istilah “miliku” dan “milikmu”, maka kita berakhir dengan konflik. Ketika kita melihat segala sesuatu sebagai setara, maka kita tidak melihat mereka sebagai milik siapa pun-mereka hanyalah kondisi yang eksis sebagaimana adanya. Tak peduli betapa lezatnya makanan yang kita makan, ketika makanan itu dikeluarkan, tak ada seorang pun yang mau memungutnya dan menyukainya. Tak seorangpun yang akan berkelahi untuk memperebutkannya.

Ketika kita menyadari segala sesuatu sebagai Dhamma tunggal ini, semua mahluk bersifat sama, kita melonggarkan cengkeraman kita, kita meletakkan hal-hal itu. Kita melihat mereka sebagai sunya/kosong, dan kita tidak memiliki cinta atau benci terhadap mereka; kita memiliki kedamaian. Dikatakan, “Nibbana adalah kebahagian tertinggi; Nibbana adalah kesunyataan tertinggi.”

Tolong dengarkan ini dengan seksama. Kebahagiaan didunia bukanlah yang tertinggi dan mutlak. Apa yang kita lihat adalah kekosongan tetapi bukanlah kekosongan yang mutlak. Jika itu adalah kekosongan mutlak, maka ada akahir dari mmenggengam dan kelekatan. Jika itu kebahagiaan tertinggi, ada kedamaian. Tapi kedamaian yang kita ketahui masih buakan yang tertinggi. Kebahagiaan yang kita ketahui bukanlah yang tertinggi. Jika kita mencapai nibbana, maka kekosonganlah yang tertinggi. Kebahagiaan tertinggi. Ada suatu transformasi menjadi . Karakter kebahagiaan tertranformasi menjadi kedamaian . Ada Kebahagiaan, namun kita tidak memberikan makna khusus terhadapnya. Ada juga duka. Ketika  ini terjadi, kita melihat mereka sebagai setara. Nilai mereka sama.

Pengalaman indra yang kita sukai dan tidak sukai adalah setara. Namun ketika mereka berkontak dengan kita, kita tidak melihat mereka sebagai setara. Jika sesautu itu menyenangkan, kita akan merasa benar-benar bahagia karenanya. Jika sesuatu yang tidak menyenangkan, kita ingin sekalia menghancurkannya. Jadi mereka tidak sama bagi kita, namun sesungguhnya mereka benar-benar setara. Kita harus berlatih dalam hal ini; mereka setara dalam segala hal, mereka adalah tidak stabil dan tidak tetap.

Seperti contoh makanan tadi. Kita mengatakan makanan ini enak,, hidangan ini luar biasa, yang satu itu menakjubkan. Tapi ketika mereka semua berakhir bersama-sama dalam tubuh dan kemudian dikeluarkan, semua makanan itu sama saja. Kemudian Anda tidak akan mendengar siapa pun yang mengeluh dan kesal “Bagiamana mungkin aku dapata begitu sedikitnya?” Pada saat itu batin kita tidak terseret lagi oleh makanan tadi.

Jika kita tidak mengalami kebenaran ketidaktetapan, duka dan ketiadadirian, maka duka akan tiada berakhir. Jika kita menaruh perhatian dan kesadaran, kita bisa melihatnya setiap saat. Ia ada dalam batin dan badan, dan kita bisa melihatnya setiap saat. Inilah tempat kita menemukan kedamaian.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blog Archive

Powered by Blogger.

- Copyright © Dhamma Cittapali -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -