Posted by : Unknown Friday, April 8, 2016

Namo BUddhaya, selamat petang.

MELIHAT SEGALA SESUATU SEBAGAIMANA ADANYA
Bagian 1
Ven Ajahn Chah

Buddha mengajarkan untuk melihat apa pun yang muncul. Segala sesuatu tidaklah menetap. Setelah muncul, mereka lenyap. Mereka muncul lagi, dan setalah muncul, mereka lenyap. Namun orang bingung, belum belajar, tidak menginginkannya seperti ini. Jika kita bermeditasi dan menjadi hening, kita ingin tetap seperti itu dan tidak menghendaki gangguan apa pun. Namun itu tidak benar adanya. Buddha menginginkan kita untuk pertama-tama melihat realita dan mengetahui sifat-sifat yang mengelabui; kemudian kita baru benar-benar bisa memiliki keheningan. Ketika kita tidak mengetahui mereka, kita menjadi pemilik mereka, dan perangkap pandangan – diri muncul. Sehingga kita harus kembali ke awal dan mengetahui bagaimana bisa terjadi seperti ini. Kita harus memahami  segala sesuatu sebagaimana adanya, bagaimana batin bereaksi, dan barulah kita bisa berada dalam kedamaian. Inilah yang harus kita selidiki. Jika kita tidak ingin segala sesuatu terjadi sebagaimana adanya, kita tidak akan memiliki kedamaian. Kemana pun kita mencoba lari, segala sesuatu masih terjadi dengan cara yang sama;inilah sifat alami mereka.

Sederhananya, inilah kebenaran. Ketidaktetapan, duka, dan ketiadadirian adalah sifat fenomena. Mereka tak lain tak bukan hanya ini, namun kita memberi segala sesuatu lebih banyak makna ketimbang sifat yang sebenarnya mereka miliki.

Sebenarnya memunculkan kebijaksanaan itu tidaklah terlalu sulit. Kebijaksanaan berarti mencari musabab dan memahami segala sifat sesuatu. Ketika batin terusik, Anda seharusnya menyadari, “Ini tidak pasti, tidak tetap !” Ketika batin tenang, jangan mulai berpikir, “Ah, benar-benar damai!” karena itu juga tidak pasti.

Ketika seseorang bertanya, “Apa jenis makanan yang paling Anda sukai?” jangan terlalu serius mengenainya. Jika Anda mengatakan Anda benar-benar menyukai suatu makanan , lantas apa sih? Coba pikirkan—jika Anda makan makanan itu setiap hari, akankah Anda masih begitu menyukainya? Anda mungkin akan sampai ke titik dimana Anda akan mengatakan, “Oh tidak, lagi-lagi ini!”

Apa Anda memahami ini? Anda bisa berakhir jatuh sakit karena hal-hal yang awalnya Anda sukai itu. Ini karena sifat segala sesuatunya yang bisa berubah, dan inilah yang seharusnya Anda ketahui. Kenikmatan itu tidaklah pasti. Ketidakbahagiaan itu tidak pasti. Kesukaan itu tidak pasti. Keheningan itu tidak pasti. Keresahan itu tidak pasti. Mutlak segalanya adalah tidak pasti. Jadi apa pun yang terjadi, kita harus memahami hal ini, dan kita tidak akan terjerat dalam apa pun. Semua pengalaman tanpa kecuali adalah tidak pasti, karena ketidaktetapan adalah memang sifat alami mereka. Ketidaktetapan berarti segala sesuatu tidaklah tetap atau stabil, dan secara sangat sederhananya, kebenaran ini adalah Buddha.

Anicca, ketidakpuasan, adalah kebenaran. Kebenaran hadir untuk kita lihat, namun kita tidak melihatnya baik-baik dan jernih. Buddha berkata, “Mereka yang melihat Dhamma, melihat Aku. “Jika kita melihat anicca, sifat tidak pasti itu, dalam segala sesuatu, maka pelepasan dan kejemuan-akan- dunia muncul: “Oh! Ini Cuma seperti itu. Eh! Itu Cuma seperti itu. Itu sebenarnya bukan apa pun yang benar-benar hebat, itu Cuma sperti itu. Aha!” Setelah menyadari ini, kita tidak perlu melakukan apa pun yang sulit dalam perenungan kita. Apa pun yang kita temui, batin akan mengatakan, “Ini Cuma seperti itu,” dan hal itu berhenti. Itulah akhir darinya. Kita akan menyadari bahwa segala fenomena hanyalah semu; tidak ada apa pun yang stabil atau tetap, melainkan segalanya tanpa hentinya berubah dan memiliki ciri ketidaktetapan, duka, dan ketiadadirian. Ini seperti bola besi merah panas membara yang telah dipanaskan diatas tungku. Bagian mana darinya yang sejuk? Cobalah sentuh jika Anda mau. Sentuh pucuknya dan akan terasa panas. Sentuh dasarnya akan panas. Sentuh sisi-sisinya dan akan terasa panas. Mengapa panas? Itu adalah bola besi membara yang seluruhnya merah-panas. Ketika kita memahami hal ini, kita tidak akan menyentuhnya. Ketika Anda merasa, “Ini benar-benar enak! Aku menyukainya! Biar aku mendapkan dan menyimpannya! Jangan percayai pemikiran seperti itu; jangan menganggap mereka terlalu serius. Itu adalah bola besi yang menyala dan panas. Jika Anda menyentuh bagian mana pun darinya, jika Anda mencoba menganggkatnya,Anda akan terbakar, Anda akan mengalami banyak rasa sakit, kulit Anda akan melepuh, terkelupas dan berdarah.

Kita seharusnya merenungi hal ini sepanjang waktu, tatkala berjalan, berdiri, duduk, berbaring. Bahkan ketika kita berada di toilet, ketika kita pergi kesuatu tempat, ketika kita makan, atau setelah kita makan dan membuang sisa pencernaan makanan kita, kita seharusnya melihat bahwa semua yang kita alami adalah tidak stabil dan tidak tetap, dan bahwa itu juga tidak memuaskan dan tanpa diri. Segala sesuatu yang tidak stabil dan tidak tetap adalah tidak pasti dan tidak nyata. Tanpa kecuali, mereka semuanya tidalah sejati. Itu persis seperti bola besi merah membara—di mana kita bisa menyentuh bagian yang tidak akan terasa panas? Mutlak setiap bagian bola besi itu panas, jadi kita tidak lagi mencoba menyentuhnya.

Ini bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilatih. Sebagai contoh, orang tua memperingkatkan anaknya untuk tidak bermain api:” Jangan dekat-dekat api! Itu bahaya! Kamu akan terbakar nanti!” Anak mungkin tidak memercayai orang tuanya atau memahami apa yang mereka katakana. Namun jika dia menyentuh api sekali saja dan terbakar, setelahnya orang tua tidak perlu lagi menjelaskan apa pun atau mencoba mengendalikan anak itu.

Tak peduli betapa pun batin tertarik atau tergila-gila oleh apa pun, Anda harus senantiasa mengingatkannya, “Itu tidak pasti! Itu tidak tetap!” Anda mungkin akan memperoleh sesuatu, seperti gelas, dan mulai memikirkan betapa benda itu. “Betapa indahnya gelas ini. Aku akan menyimpannya dan benar-benar merawatnya agar tidak pecah. “Maka Anda harus memberi tahu Anda sendiri, “Itu tidak pasti.” Anda bisa minum darinya dan meletakkanya di samping sikut Anda, dan dalam sekejab kelalaian, Anda menjatuhkannya dan pecahlah gelas itu.

Jika tidak pecah hari ini, gelas itu akan pecah besok. Jika tidak pecah besok, gelas itu akan pecah pada suatu hari. Segala sesuatu yang dapat mengalami kerusakan bukanlah tempat Anda seharusnya menaruh kepercayaan.

Ketidak tetapan ini adalah Dhamma sejati. Segala sesuatu tidaklah stabil atau nyata.Tidak ada suatu apa pun mengenai mereka yang sejati, dan hanya fakta inilah yang sejati. Apakah Anda hendak membantah hal ini? Inilah hal yang paling pasti: karena lahir,Anda harus menua, jatuh sakit, dan mati. Inilah realita yang tetap dan pasti, dan kebenaran tetap ini lahir dari kebenaran akan ketidaktetapan. Dengan menguji segala sesuatu secara seksama berdasar standar “Tidak tetap, tidak pasti” sebuah transformasi akan muncul ke dalam sesuatu yang tetap dan pasti, dan kemudian kita tak akan lagi membawa beban segala sesuatu.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blog Archive

Powered by Blogger.

- Copyright © Dhamma Cittapali -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -