- Back to Home »
- 2016-04 April 2016 »
- Belenggu
< Just share >
- Belenggu -
Sumber : kutiban Internet
Dalam agama Buddha, sebuah belenggu, rantai atau ikatan (Pāli: samyojana, saŋyojana, saññojana) jiwa, mengikat mahluk hidup kepada saṃsāra, lingkaran kehidupan beserta dengan dukkha.
Dalam ajaran Buddha, belenggu adalah ikatan yang mengikat manusia dalam lingkaran tumimbal lahir. Dengan melaksanakan Jalan Utama Berunsur Delapan maka manusia dapat membebaskan diri dari belenggu tersebut untuk dapat mencapai kesucian.
Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11(S 5.420), Sang Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani) yang di dalamnya terdapat Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha. Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga . Di dalam Jalan ini mengandung unsur Sila (kemoralan), Samadhi (konsentrasi), dan Panna (kebijaksanaan).
Dengan meenghancurkan keseluruhan belenggu, seseorang akan berkesempatan mencapai nibbāna (Pāli; Skt.:nirvāṇa).
Didalam Kanon Pali, kata "belenggu" digunakan untuk menjelaskan fenomena intrapsikis yang mengikat seseorang kepada penderitaan. Sebagai contoh, dalam Itivuttaka 1.15 kitab Khuddaka Nikaya, Buddha menyatakan:
"
Bhikkhu, Saya tidak membayangkan belenggu lain - terbelenggu yang oleh karenanya mahluk yang tergabung berkelana danberpindah-pindah dalam waktu yang lama - seperti belenggu keinginan. Terbelenggu oleh belenggu akan keinginan, mahluk hidup tergabung berkelana dan berpindah-pindah dalam waktu yang lama.
"
Dilain pihak, penderitaan yang disebabkan oleh sebuah belenggu sebagaimana tersirat dalam percakapan teknis dalam SM 35.232, dimana YM. Sariputta bercakap-cakap dengan YM. Kotthita:
“
YM. Kotthita: "Bagaimana, rekan Sariputta, bahwa ... telinga adalah belenggu akan suara atau suara merupakan belenggu akan telinga?..."
YM. Sariputta: "Rekan Kotthita, sebuah ... telinga bukanlah belenggu akan suara ataupun suara merupakan belenggu akan telinga, akan tetapi keinginan dan nafsu yang timbul daripadanya yang bergantung pada keduanya: terdapatlah belenggu disana.."
“
Melalui Sutta Pitaka dalam Kanon Pali terdapat sepuluh belenggu yang mempunyai pengertian untuk menjelaskan "belenggu-belenggu untuk menjadi" , diantaranya adalah :
1. percaya pada diri (Pali:sakkāya-diṭṭhi)
2. keraguan atau ketidakpastian, terutama mengenai ajaran (vicikicchā)
3. Kemelekatan pada ritual dan kebiasaan (sīlabbata-parāmāso)
4. nafsu indria (kāmacchando)
5. keinginan buruk (vyāpādo atau byāpādo)
6. nafsu akan keberadaan materi, nafsu akan kelahiran kembali secara material (rūparāgo)
7. nafsu akan keberadaan non-materi, nafsu akan kelahiran kembali di dunia tanpa bentuk (arūparāgo)
8. kesombongan (māno)
9. kegelisahan (uddhaccaŋ)
10.kedunguan (avijjā)
di dalam Sutta Pitaka, lima belenggu pertama dirujuk sebagai "belenggu rendah" (orambhāgiyāni saṃyojanāni) dan diberantas segera setelah menjadi seorang pemasuk-arus; dan lima belenggu terakhir dirujuk sebagai "belenggu-belenggu tinggi" (uddhambhāgiyāni saṃyojanāni), diberantas oleh seorang arahat.
Dalam Kitab Dhamma Sangani dalam Abhidhamma Pitaka (Dhs. 1113-34) menyediakan daftar lain mengenai sepuluh belenggu, daftar ini juga ditemukan dalam Culla Niddesa kitabKhuddaka Nikaya (Nd2 656, 1463) dan pada komentar-komentar Kanon Pali. Penomorannya adalah:
1. nafsu sensual (Pali: kāma-rāga)
2. kemarahan (paṭigha)
3. kesombongan (māna)
4. pandangan-pandangan (diṭṭhi)
5. keraguan (vicikicchā)
6. kemelekatan pada kebiasaan dan ritual (sīlabbata-parāmāsa)
7. nafsu akan keberadaan (bhava-rāga)
8. kecemburuan (issā)
9. keserakahan (macchariya)
10. kebodohan (avijjā).
Komentar menegaskan bahwa pandangan-pandangan, keraguan, kemelekatan pada kebiasaan dan ritual, kecemburuan dan keserakahan keluar dari tahapan pertama akan Kesadaran (sotāpatti); nafsu sensual yang kotor dan kemarahan pada tingkatan kedua (sakadāgāmitā) dan bahkan bentuk halus serupa pada tingkatan ketiga (anāgāmitā); dan kesombongan, nafsu akan keberadaan dan kebodohan pada tahapan keempat dan akhir (arahatta).
Belenggu yang berhubungan dengan perumah tangga ada juga dijelaskan secara khusus dalam Sutta "Potaliya" (MN 54), dimana dikenal sebagai delapan belenggu-belenggu (termasuk tiga dari Lima Ajaran) yang mana mempunyai pengertian mengabaikan "menyebabkan pemutusan hubungan" ("lead[s] to the cutting off of affairs") (vohāra-samucchedāya saṃvattanti) , diantaranya adalah :
(1) menghancurkan kehidupan (pāṇātipāto);
(2) mencuri (adinnādānaṃ);
(3) ucapan salah (musāvādo);
(4) fitnah (pisunā);
(5) iri hati dan keserakahan (giddhilobho);
(6) kebencian (nindāroso);
(7) kemarahan dan kebencian (kodhūpāyāso); dan,
(8) kesombongan (atimāno).
"Sabbe satta bhavantu sukhitatta"
( สัพเพ สัต ตา ภะ วัน ตุ สุขิตัต ตา )